Hayatı Nupus
09 Februari 2020•Update: 10 Februari 2020
Ahmet Sertan Usul, Eda Ozdener dan Burcu Calik Gocumlu
ANKARA
Pejabat tinggi Turki pada Sabtu mengutuk pernyataan Mustafa Akinci, pemimpin Republik Turki Siprus Utara (TRNC), dalam sebuah harian Inggris.
Kecaman datang setelah Akinci berbicara dengan The Guardian soal upaya reunifikasi lama Pulau Siprus.
“Jika ini gagal, kata dia [Akinci], utara [TRNC] akan semakin tergantung pada Ankara dan akhirnya bisa dikuasai, sebagai provinsi de facto Turki,” The Guardian mengutip pernyataan Akinci.
Wakil Presiden Fuat Oktay mengatakan lewat Twitter: “Saya mengutuk pernyataan yang menargetkan Republik Turki yang berdiri bersama TRNC dalam segala kondisi dan melindungi hak serta kepentingannya.”
Pernyataan itu tidak akan ditoleransi karena menggunakan Turki sebagai “alat kampanye pemilihan” dengan pendekatan politik yang kurang visioner, Fuat menekankan.
Direktur Komunikasi Fahrettin Altun juga sangat mengutuk pernyataan Akinci, yang mencerminkan keegoan Akinci terhadap kelangsungan hidupnya.
Altun mengatakan dalam pernyataan tertulis bahwa Akinci tidak pantas duduk di kursi kepresidenan, yang telah merenggut nyawa tentara Siprus Turki dan tentara Turki.
“Turki tidak memiliki rencana di tanah negara mana pun dan tidak akan mentolerir tanah Turki yang membuat manfaat tersedia bagi siapa pun,” kata dia.
Menteri Kehakiman Abdulhamit Gul mengkritik pernyataan Akinci di Turki beberapa waktu lalu yang juga menghina nenek moyang.
“Ankara akan terus mendukung Siprus Turki seperti yang telah dilakukan selama ini,” kata dia.
Perdana Menteri TRNC Ersin Tatar bergabung dengan pejabat Turki yang mengutuk pernyataan Akinci.
“Bahwa Akinci mengkritik Turki melalui klaim kosong, itu tindakan yang salah dengan tujuan memenangkan pemilihan,” kata dia.
Tatar mengatakan Siprus Turki akan menghukum Akinci dengan tidak memberikan dukungan suara dalam pemilihan presiden yang dijadwalkan pada 26 April.
Tatar menekankan bahwa TRNC dan Turki akan selalu dalam kerja sama yang erat dan bersahabat untuk menyelesaikan masalah Siprus.
Pada 1974, menyusul kudeta yang bertujuan mencaplok Siprus oleh Yunani, Ankara harus melakukan intervensi sebagai kekuatan penjamin.
Pada tahun 1983, berdiri TRNC.
Beberapa dekade sejak itu tampak beberapa upaya untuk menyelesaikan perselisihan Siprus, semuanya berakhir dengan kegagalan.
Upaya terbaru, yang digelar dengan partisipasi negara-negara penjamin—Turki, Yunani, dan Inggris—berakhir tanpa kemajuan pada 2017 di Swiss.
* Ditulis dengan kontribusi Muhammed Ikbal Arslan di Republik Turki Siprus Utara, yang ditulis oleh Davut Demircan