Astudestra Ajengrastrı
05 September 2018•Update: 06 September 2018
Hassan Isilow
JOHANNESBURG
Wilayah Afrika dengan perekonomian paling berkembang mengalami resesi pada Selasa setelah produk domestik bruto (PDB) Afrika Selatan turun 0,7 persen di kuartal kedua tahun berjalan ini, sebut badan statistik negara tersebut.
"Penurunan di kuartal kedua 2018 adalah hasil dari jatuhnya aktivitas di sektor pertanian, transportasi, perdagangan, pemerintahan dan industri manufaktur," ungkap Afrika Selatan Statistik (StatsSa).
StatsSa berkata produksi pertanian turun 29,9 persen di kuartal kedua 2018, setelah sebelumnya turun 33,6 persen di kuartal pertama.
Penurunan ini, sebut StatsSa, karena panen tanaman lahan dan hortikultura berkurang yang disebabkan oleh kondisi kekeringan yang melanda beberapa bagian negara tersebut.
Resesi terakhir yang dialami Afrika Selatan adalah pada saat krisis finansial global 2008-2009 lalu, dengan penurunan ekonomi selama tiga kuartal berturut-turut.
Sebuah negara dikatakan mengalami resesi jika mengalami pertumbuhan negatif pada perekonomian mereka selama dua kuartal atau lebih secara berturut-turut.
Pertambangan, konstruksi, kelistrikan, keuangan dan layanan pribadi mengalami pertumbuhan positif, tapi tidak cukup untuk mengangkat pertumbuhan ekonomi Afrika Selatan keluar dari wilayah negatif.
"Pertumbuhan rata-rata sektor pertambangan 4,9 persen, kebanyakan disumbang oleh kenaikan produksi logam platinum, tembaga dan nikel," kata badan milik pemerintah tersebut.
Sementara itu, kegiatan konstruksi naik 2,3 persen yang disumbang oleh pembangunan gedung non-residensial, dan aktivitas pekerjaan konstruksi.