Maria Elisa Hospita
19 Desember 2019•Update: 20 Desember 2019
Baris Seckin
ROMA
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengkritik beberapa negara anggota PBB karena melanggar embargo senjata yang dikenakan PBB ke Libya.
“Saya sangat frustasi karena Dewan Keamanan telah mengumumkan embargo senjata dan mendesak gencatan senjata berkali-kali. Namun tidak ada yang menghiraukannya," kata Guterres saat konferensi pers gabungan dengan Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte di Roma.
"Ada beberapa negara anggota PBB yang menyediakan senjata untuk kedua belah pihak dalam konflik setiap minggunya," ujar dia.
Sekjen menggambarkan situasi di Libya sebagai kanker yang menyebarkan ketidakstabilan dan konflik di beberapa wilayah Afrika, terutama di Sahel.
Wilayah Sahel, sebuah daerah gersang di pinggiran selatan Gurun Sahara, telah menyaksikan tingkat kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak 2015, dengan kelompok-kelompok militan berupaya memperluas pengaruh mereka di seluruh Afrika Barat.
Sementara itu, Conte mengakui bahwa pertempuran melawan terorisme tidak akan menang di wilayah Sahel sebelum perdamaian dan stabilitas di Libya tercapai.
Libya dilanda gejolak sejak 2011, ketika pemberontakan yang didukung NATO menyebabkan lengser dan wafatnya Presiden Muammar Khaddafi yang telah lebih dari empat dekade berkuasa.
Data resmi PBB menunjukkan bahwa selama paruh pertama tahun ini, lebih dari 200 serangan teroris terjadi di Afrika hingga mengakibatkan 5.000 korban lebih termasuk personel keamanan dan warga sipil.
*Ditulis oleh Gozde Bayar