23 Juli 2017•Update: 25 Juli 2017
Hader Glang
ZAMBOANGA CITY, Filipina
Parlemen Filipina dalam rapat khusus yang digelar Sabtu lalu memutuskan untuk menyetujui permintaan Presiden Rodrigo Duterte memperpanjang masa darurat militer di seluruh pulau Mindanao sampai akhir tahun.
Anggota senat dari dua belah pihak, baik oposisi maupun pendukung pemerintah, mengambil keputusan ini dengan suara bulat hanya beberapa jam sebelum penetapan 60 hari darurat militer oleh Duterte habis waktu pada tengah malam.
Perolehan suara ini sangat jauh: 261-18 (empat anggora DPR dan 14 perwakilan tak setuju), seperti dilaporkan oleh Kantor Berita Filipina.
Senator Gringo Honasan, eks-militer yang mengumumkan mosi ini, mengakui adanya kemungkinan adanya kekerasan yang bisa terjadi, namun ia percaya kongres punya mekanisme untuk mencegahnya.
“Darurat militer di Mindanao mengandung risiko dan kesempatan, tapi keduanya bisa kami kontrol,” begitu Honasan dikutip.
“Terorisme tidak akan mulai dan berakhir di Marawi. Konflik bersenjata dengan alasan apapun tidak akan berawal dan berakhir di Mindanao,” tambah dia.
Menurut Honasan, perpanjangan ini akan menyelesaikan problema soal terorisme di Mindanao secepat dan sejauh yang diperbolehkan oleh hukum, dan mempercepat “tugas menyakitkan” untuk merehabilitasi dan merekonstruksi kota di sebelah selatan yang kini terkoyak oleh perang.
Sebelum pengambilan suara, anggota senat dari fraksi minoritas Franklin Drilon, yang urun suara menentang mosi perpanjangan, mengusulkan pembatasan 60 hari ketimbang lima bulan.
“Yang membatasi periode darurat militer adalah kongres. Dalam konstitusi sudah jelas.. Kita tidak boleh mengindahkan tugas itu,” kata Drilon.
Tapi, senat usul tersebut.
Pada 23 Mei, Duterte menetapkan darurat militer kepada pulau Mindanao karena perseteruan antara pasukan militer pemerintah dengan organisasi teror yang berkaitan dengan Daesh, Maute, juga teroris Abu Sayyaf di kota Marawi.
Lebih dari 500 orang, kebanyakan militan, telah dihabisi dan setidaknya 400 ribu orang menghilang akibat konflik ini. Pertarungan yang berlarut-larut ini juga mengakibatkan kurang lebih 300 ribu orang tersingkir dari zona konflik dan area di dekatnya.