Muhammad Nazarudin Latief
04 April 2020•Update: 06 April 2020
Felix Tih
ANKARA
Komite Internasional Palang Merah (ICRC) pada Sabtu mengatakan sangat prihatin pada dampak Covid-19 di Somalia yang akan lebih buruk karena kekerasan dan konflik.
Somalia berada di titik kritis di mana tindakan cepat masih bisa dilakukan untuk memperlambat penyebaran Covid-19 dan menyelamatkan nyawa, ujar ICRC dalam sebuah pernyataan.
Somalia sejauh ini mengonfirmasi tujuh kasus Covid-19, tanpa kematian dan satu pasien sembuh, menurut angka yang dikumpulkan oleh Johns Hopkins University.
"Somalia berada di persimpangan jalan. Kita bisa dengan cepat mengerahkan informasi dan sumber daya pada masyarakat dan fasilitas kesehatan di sana untuk memerangi Covid-19, atau bergerak lambat dan tidak pernah mengejar ketinggalan," kata Juerg Eglin, kepala delegasi ICRC untuk Somalia.
"Kecepatan sangat penting, dan kami bekerja dengan rekan-rekan kami di Bulan Sabit Merah Somalia untuk melawan Covid-19," tambah Eglin.
Covid-19 merupakan ancaman yang tidak terlihat bagi Somalia, selain konflik yang masih berkecamuk dan membuat warga mengungsi serta menderita.
Baru-baru ini terjadi bentrokan di Janaale, wilayah Lower Shabelle yang berakibat pada lebih dari 20.000 orang, dengan sekitar 8.000 orang mengungsi dari rumah mereka ke Marka, Afgooye, Shalambood dan Mogadishu, menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan.
Somalia, yang terletak di Tanduk Afrika dan berbatasan dengan Ethiopia di barat dan Teluk Aden di utara, merasakan banyak serangan teror selama dua dekade terakhir.
Kelompok yang berafiliasi dengan Al-Qaeda yang berbasis di Somalia al-Shabaab mengklaim bertanggung jawab atas sebagian besar serangan bunuh diri yang mematikan.