Islamuddin Sajid
28 Juni 2018•Update: 29 Juni 2018
Islamuddin Sajid
ISLAMABAD, Pakistan
Pakistan menghadapi kelangkaan air akut, dengan penurunan ketinggian air dari berbagai sumber air di banyak bagian negara ini, para ahli dan media lokal memperingatkan.
Danau Rawal, waduk buatan yang menyediakan kebutuhan air bagi ibu kota Islamabad dan kota tetangganya, Rawalpindi, kini mengering.
Danau seluas 8,8 kilometer (5,5 mil) ini mendapatkan suplai air dari Sungai Korang di sebelah timur Provinsi Punjab.
"Ketinggian air di danau ini sangat tergantung Sungai Korang dan saat ini tidak ada air di sana karena berkurangnya tingkat hujan di negara ini," ujar Irfan Shah, pengurus administrasi danau lokal.
"Saya harap musim penghujan segera datang bulan depan dan danau bisa dipenuhi air kembali," tambah dia.
Penduduk di ibu kota juga menghadapi kekurangan air tanah dan mayoritas sumur mengering di sektor G. Islamabad dibagi menjadi beberapa sektor untuk keperluan administrasi.
"Sumur-sumur kami telah kering dan sekarang kami harus membeli air bersih untuk keperluan rumah tangga," sebut Sultan Khan, penduduk di sektor tersebut.
Banyak penduduk menggali sumur di rumah mereka untuk mendapatkan air tanah yang bisa dipakai ketika kota mereka mengalami kekurangan air.
Para ahli berpendapat situasi ini akan membaik ketika musim hujan dimulai pada bulan depan.
"Musim hujan di Pakistan diharapkan mulai pada akhir Juli dan ketinggian air akan naik setelah hujan turun," kata Mushtaq Shah, direktur Departemen Meteorologi.
Dia menambahkan musim penghujan besok akan membawa banyak hujan, meskipun tahun lalu kekeringan melanda negara tersebut.
Krisis nasional
Ketinggian air di Islamabad turun satu meter per tahun dan enam meter di sebelah barat daya Provinsi Baluchistan.
Juga, ketinggian air di 26 dari 43 danau di negara ini telah turun drastis selama beberapa tahun terakhir, lapor Dawn, sebuah koran lokal, mengutip pejabat Otoritas Sistem Sungai Indus.
Para ahli sudah memperingatkan negara ini bisa mengalami kekurangan air, karena persediaan air per kapita turun tajam dari 5.000 meter kubik menjadi 1.000 meter kubik karena kekurangan penampungan air dan pertumbuhan populasi.
"Ini adalah situasi yang membahayakan, karena saat ini persediaan air per kapita saat ini adalah 900-1.000 meter kubik dan akan terus berkurang karena perubahan iklim dan kurangnya perencanaan," ujar Wali Yousafzai, ahli sumber daya air dari Islamabad.
Pekan lalu, pimpinan Otoritas Pengembangan Air dan Tenaga (WAPDA) meminta majelis tinggi parlemen untuk mengambil langkah-langkah praktis untuk mengatasi situasi ini.
"Negara ini harus mempersempit jurang antara pertumbuhan populasi dan kebutuhan-kebutuhan mereka, dan menambah jumlah waduk air buatan. Kami membutuhkan bantuan parlemen untuk mengatasi masalah yang mengkhawatirkan ini," ujar Muzammil Hussain, kepala WAPDA, di hadapan Senat pada pekan lalu.
Pada April lalu, Pakistan menyetujui untuk pertama kalinya kebijakan nasional tentang air dan mengumumkan akan mengalokasikan 10 persen dari anggaran program pembangunan sektor publik federal untuk air, dan akan menaikkannya menjadi 20 persen pada 2030.
Di bawah kebijakan baru ini, tingkat kehilangan air, yang diperkirakan sebanyak 46 juta kaki per acre (MAF), akan berkurang sebanyak 33 persen dalam 12 tahun mendatang.
Juga, bendungan-bendungan baru, termasuk bendungan Diamer-Basha, akan dibangun di sebelah utara negara tersebut.
Saat ini, Pakistan hanya bisa menyimpan air untuk kebutuhan selama 30 hari saja.