İqbal Musyaffa
28 September 2018•Update: 28 September 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Komisi Etnis dan Agama Republik Rakyat China dan Asosiasi Islam China mengapresiasi manajemen pengelolaan zakat Indonesia yang dikelola Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).
Wakil Presiden China Islamic Association yang juga Presiden Guangdong Islamic Association Wang Wenjie dalam keterangan persnya, Jumat, menilai BAZNAS mampu menggiring isu positif-konstruktif tentang zakat ke pentas dunia.
Penghimpunan zakat dari umat, menurut dia, bisa dipacu melalui kreativitas dan inovasi seperti rencana pemotongan gaji pegawai negeri untuk zakat.
Secara khusus, delegasi China Islamic Association memuji digitalisasi pelayanan zakat yang diterapkan BAZNAS, termasuk kerja sama dengan lembaga internasional seperti UNDP yang merupakan bagian dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
“Zakat listrik untuk mustahik bekerja sama dengan non-Muslim seperti lembaga PBB ini sangat menarik. Mungkin ini hanya ada di Indonesia dan merupakan yang pertama di dunia,” kata Wang.
Wang Wenjie juga menyambut baik keinginan BAZNAS untuk menjalin kerja sama bidang pendidikan dan pengembangan kapasitas dai dalam penguasaan budaya dan bahasa Mandarin.
Wakil Ketua BAZNAS Zainulbahar Noor mengatakan akan melakukan penjajakan kerja sama dengan Komisi Etnis dan Agama dan Asosiasi Islam China.
“Kita mengupayakan menjalin kerja sama pendalaman Bahasa Mandarin untuk para dai dan para mustahik mahasiswa dan pelajar,” ujar Zainul.
Zainul berharap BAZNAS terus menjalin komunikasi dengan China Islamic Association dan menyiapkan kunjungan balasan untuk merealisasikan kerja sama di bidang pendidikan, dakwah dan pendalaman budaya China dan bahasa Mandarin.
“Untuk tahap awal kita kirim sepuluh pelajar dan sepuluh dai untuk belajar budaya dan bahasa Mandarin sehingga kelak mereka bisa mahir berdakwah dengan menggunakan bahasa Tionghoa,” tambah Zainul.