21 April 2018•Update: 22 April 2018
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menentang komentar AS pada Jumat yang menyebutkan Ankara mempertaruhkan sanksi atas pembelian sistem pertahanan udara S-400 Rusia dan menyebutnya sebagai ‘pemerasan’.
"Mr Mitchell menyatakan Ankara dapat diganjar dengan sanksi jika membeli S-400 dari Rusia. Ini adalah contoh dari percobaan pemerasan yang bertujuan untuk memberikan persaingan yang tidak adil kepada perusahaan-perusahaan Amerika," kata Lavrov, dalam konferensi pers seusai bertemu dengan mitra Austria Karine Kneissl di New York.
Diplomat top Rusia itu merujuk pada komentar Aaron Wess Mitchell, asisten Menteri Luar Negeri AS untuk urusan Eropa dan Eurasia.
Lavrov mengingatkan pernyataan Sekjen NATO Jens Stoltenberg bahwa pembelian S-400 oleh Turki adalah keputusan nasional yang dibuat oleh Turki.
"Mungkin, AS sebagai anggota NATO harus menghormati suara kolektif yang diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal Aliansi Atlantik Utara," kata dia.
S-400 adalah sistem rudal anti-pesawat jarak jauh Rusia yang paling canggih dengan kapasitas membawa tiga jenis rudal yang mampu menghancurkan target termasuk rudal balistik dan jelajah.
Sistem ini dapat melacak dan melibatkan hingga 300 target sekaligus dan memiliki batas ketinggian hingga 27 kilometer (17 mil).
Desember lalu, Turki mengumumkan telah menyelesaikan perjanjian dengan Rusia untuk pembelian dua sistem S-400 pada awal 2020.
Mitchell, pejabat departemen luar negeri AS, telah mengklaim Turki dapat menghadapi sanksi AS jika melanjutkan rencana untuk membeli sistem rudal Rusia dan pembelian itu dapat berdampak buruk terhadap partisipasi Turki dalam program F-35.