Nani Afrida
25 November 2019•Update: 26 November 2019
Shadi Khan Saif
KABUL, Afghanistan
Menteri pertahanan Afghanistan pada Minggu memperingatkan untuk tidak memancing kekerasan dan kekacauan di negara itu.
Dengan terlambatnya komisi pemilihan umum negara mengumumkan hasil pemilihan 28 September lalu, Assadullah Khalid menggarisbawahi bahwa pasukan keamanan tidak akan membiarkan adanya kekerasan yang akan merusak pemilihan presiden.
"Tentara Afghanistan adalah penjamin perdamaian [...] tidak ada yang bisa memaksakan apa pun yang bertentangan dengan kehendak rakyat Afghanistan," Khalid menekankan.
Dia menambahkan militer tidak akan membiarkan keuntungan dua dekade terakhir "hilang".
Dalam pidatonya di sebuah konferensi di Kabul, ia menggarisbawahi bahwa pasukan keamanan membuktikan ketidakberpihakan mereka selama pemilihan, dan yang mampu menggagalkan rencana untuk merusak proses tersebut.
Pernyataan ini keluar setelah terjadi aksi unjuk rasa mendukung kandidat presiden Abdullah Abdullah - Kepala Eksekutif Presiden Abdullah Abdullah yang berbagi kekuasaan - yang telah menutup kantor komisi pemilu di beberapa provinsi.
Aksi ini menuduh Presiden Ashraf Ghani melakukan penipuan dalam proses penghitungan awal.
Abdullah dan sejumlah kandidat telah berjanji untuk tidak menerima hasil jajak pendapat.
Pada 7 November, komisi pemilu seharusnya mengumumkan hasil pemilu yang diikuti 13 orang kandidat.
Komisi pemilu masih melakukan menghitung ulang suara pada 8.255 tempat pemungutan suara yang disengketakan di seluruh negeri dengan tujuan menentukan hasil awal.