Rhany Chairunissa Rufinaldo
05 Oktober 2020•Update: 05 Oktober 2020
Murat Ozgur Guvendik
ANKARA
Kantor berita Azerbaijan pada Minggu mengucapkan terima kasih kepada Anadolu Agency atas laporannya tentang pembebasan sebuah kota di Karabakh Atas dari Armenia.
Kepala kantor berita Azertac, Aslan Aslanov, mengatakan kepada Direktur Jenderal Anadolu Agency Senol Kazanci dalam sebuah surat bahwa dia merasa terhormat membaca berita yang melaporkan bahwa Kota Jabrayil, tempat dia lahir dan dibesarkan, telah dibebaskan dari pendudukan Armenia.
Mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Kazanci, Aslanov mencatat bahwa Anadolu Agency selalu menjadi teman, saudara dan dukungan.
"Allah memberkahi Anda dan semua staf Anadolu Agency," ujar dia.
Sebelumnya, Kazanci mengirimkan pesan ucapan selamat kepada Aslanov setelah kota tersebut diklaim kembali oleh pasukan Azerbaijan.
"Kami juga dengan senang hati mempersembahkan perkembangan dalam proses mengakhiri pendudukan tidak adil yang telah berlangsung selama 30 tahun, kepada Anda, serta media dunia dan dengan cara ini kepada masyarakat di dunia," ungkap dia.
Kazanci menambahkan bahwa persaudaraan antara Anadolu Agency dan Azertac, yang sejalan dengan prinsip "dua negara, satu bangsa", akan terus berlanjut selamanya.
Presiden Ilham Aliyev mengumumkan pada Minggu pagi bahwa Angkatan bersenjata Azerbaijan berhasil membebaskan Jabrayil dari pendudukan Armenia di tengah bentrokan perbatasan yang sedang berlangsung di Nagorno-Karabakh.
Operasi yang diluncurkan oleh angkatan bersenjata Azerbaijan untuk merebut kembali wilayah yang diduduki terus berlanjut.
Bentrokan perbatasan pecah pada 27 September, ketika pasukan Armenia menargetkan pemukiman sipil Azerbaijan dan posisi militer, yang menimbulkan banyak korban.
Konflik Nagorno-Karabakh
Hubungan antara kedua negara bekas Soviet itu tegang sejak 1991, ketika militer Armenia menduduki Karabakh Atas, atau wilayah Nagorno-Karabakh, wilayah Azerbaijan yang diakui secara internasional.
Empat Dewan Keamanan PBB dan dua resolusi Majelis Umum PBB serta banyak organisasi internasional menuntut penarikan pasukan pendudukan dari wilayah tersebut.
OSCE Minsk Group - diketuai bersama oleh Prancis, Rusia dan AS - dibentuk pada 1992 untuk menemukan solusi damai bagi konflik tersebut, tetapi tidak berhasil.