Tuba Şahin
14 April 2021•Update: 14 April 2021
ANKARA
Libya akan berupaya untuk memungkinkan pemberian bebas visa bagi warga negara Turki, kata Perdana Menteri Pemerintah Persatuan Nasional Libya Abdul Hamid Dbeibeh di ibu kota Turki pada Selasa.
"Kami akan segera memulai prosedur untuk penghapusan persyaratan visa dan memulai inisiatif yang diperlukan untuk meluncurkan kedutaan besar di ibu kota Ankara dan gedung konsulat di kota timur laut Benghazi," kata Dbeibeh pada sebuah pertemuan di Ankara.
Berbicara pada hari terakhir dari kunjungan resmi selama dua hari ke Turki, PM Libya Dbeibeh menjanjikan dukungan penuh bagi sektor swasta Turki untuk melakukan lebih banyak bisnis di Libya.
"Kami ingin sektor swasta Turki dan Libya berinteraksi dan bahkan bergabung," kata Dbeibeh.
"Kami akan melakukan apa pun untuk memudahkan kalian berbisnis di Libya dalam berbagai sektor," imbuh dia.
Dia mengatakan bahwa Pemerintah Persatuan Nasional sedang membangun kembali Libya setelah masa sulit di negara itu.
Dbeibeh menambahkan pihaknya berharap dapat memobilisasi kembali kemajuan ini, yang akan memberikan kontribusi positif bagi kehidupan warga negaranya.
Dunia bisnis Turki kembali ke Libya
Dbeibeh menyoroti bahwa berbagai perjanjian Libya dengan Turki akan membantu pemerintah memenuhi kebutuhan rakyat Libya.
"Salah satu prioritas pemerintah kami adalah memulai kembali semua proyek yang terputus dan menghilangkan rintangan yang menghalangi mereka," ujar dia.
Menyoroti ukuran investasi Turki di Libya, Dbeibeh mengundang dunia bisnis Turki ke negaranya untuk menyelesaikan proyek yang ada dan melakukan yang baru.
"Saya dapat mengundang semua perusahaan yang berbisnis di Libya: kami akan menyelesaikan semua masalah keuangan Anda dan tidak ada hak Anda yang akan hilang," tegas Dbeibeh, menambahkan bahwa pemerintah menghormati dan mengakui semua perjanjian yang ditandatangani di masa lalu.
Menyinggung kemungkinan pakta perdagangan bebas antara Turki dan Libya, dia menekankan pentingnya mencapai kesepakatan semacam itu.
Pertemuan tersebut diselenggarakan sebagai bagian dari Dewan Kerja Sama Strategis Tingkat Tinggi Turki-Libya, yang diadakan pada Senin.
Pada Senin, setelah pembicaraan dengan para pejabat tinggi Libya, para pemimpin Turki menekankan kerja sama bilateral yang berkelanjutan serta kembalinya bisnis Turki ke Libya saat negara itu mendapatkan kembali stabilitas.
Libya jatuh ke dalam kekacauan dan perang saudara setelah penggulingan Muammar Gaddafi pada 2011.
Turki telah lama mendukung upaya Pemerintah Persatuan Nasional untuk menyatukan negara.
Pada 5 Februari, delegasi Libya memilih Dbeibeh sebagai perdana menteri baru negara itu dan Mohammad Menfi untuk memimpin tiga anggota Dewan Presiden.