Maria Elisa Hospita
18 November 2019•Update: 18 November 2019
Sierra Juarez
QUERETARO, Meksiko
Dalam beberapa hari terakhir, empat orang tewas di Bolivia, sehingga jumlah korban jiwa dari aksi protes mencapai sedikitnya 23 orang.
Gelombang protes dimulai pada Oktober, ketika Presiden Evo Morales dinyatakan sebagai pemenang pemilihan presiden untuk keempat kalinya.
Para pengunjuk rasa turun ke jalanan untuk memprotes hasil pemilu yang dianggap curang.
Karena gelombang protes tak kunjung selesai, Morales akhirnya mengundurkan diri dan pindah ke Meksiko, yang menawarinya suaka politik.
Sebagai gantinya, senator dari partai oposisi, Jeanine Anez, mendeklarasikan dirinya sebagai presiden interim.
Namun aksi protes tak kunjung surut. Sejak kepergian Morales ke Meksiko, pendukung Morales turut berunjuk rasa di ibu kota, La Paz, dan kota-kota besar lainnya.
Mereka menyebut pengunduran diri Morales sebagai kudeta.
"Kami menuntut pemerintah de facto Anez untuk mencegah eskalasi krisis di mana dalam lima hari, 24 orang sudah meninggal dunia karena represi polisi dan militer," cuit Morales pada Minggu.
"Saya mengutuk kejahatan terhadap kemanusiaan ini," kata dia lagi.
Sebelumnya, pada Jumat, pasukan keamanan menembaki pendukung Morales di Kota Sacaba di Bolivia Tengah, hingga menewaskan delapan orang. Morales menyebutnya "pembantaian."