Maria Elisa Hospita
26 April 2019•Update: 29 April 2019
Ali Murat Alhas
ANKARA
Koalisi pimpinan Amerika Serikat di Suriah menewaskan lebih dari 1.600 warga sipil di Kota Raqqa selama kampanye militernya melawan kelompok teror Daesh pada 2017.
Sebuah situs web interaktif yang dikembangkan oleh Amnesty International dan Airwars - sebuah kelompok yang berbasis di London yang memantau dampak kampanye yang dipimpin AS melawan Daesh - mendesak koalisi pimpinan AS untuk bertanggung jawab atas pembunuhan sejumlah warga sipil yang terperangkap di antara kontak senjata Daesh dan koalisi.
Situs yang dinamakan sebagai "Retorika vs Realitas: Bagaimana Kampanye Udara Paling Tepat Sepanjang Sejarah Menjadikan Raqqa Sebagai Kota yang Paling Hancur di Zaman Modern," menyebutkan bahwa sepanjang Juni-Oktober 2017, koalisi meluncurkan ribuan serangan udara dan artileri untuk mendukung Pasukan Demokratik Suriah (SDF), yang berafiliasi dengan kelompok teror YPG / PKK.
Situs tersebut juga menekankan bahwa koalisi mengklaim telah mengambil semua langkah yang diperlukan untuk menyelamatkan warga sipil, padahal sebenarnya tidak sesuai dengan fakta di lapangan, karena banyaknya warga sipil yang dibantai selama kampanye militer.
Menurut situs web itu, koalisi melakukan serangan tanpa pandang bulu di lingkungan perumahan warga, sementara mantan Menteri Pertahanan AS James Mattis mendefinisikan aliansi anti-Daesh sebagai "orang baik" yang mengambil banyak peluang untuk menghindari korban sipil "dengan segala cara".
"Saya kehilangan semua orang yang saya sayangi. Empat anak, suami, ibu, saudara perempuan, seluruh keluarga saya," kata Ayat Mohammed Jasem, yang selamat dari serangan udara yang menewaskan sedikitnya 32 orang tewas, termasuk 20 anak-anak.
Koalisi mengakui menewaskan 159 warga sipil di Raqqa - hampir 10 persen dari jumlah sebenarnya.
Amnesty dan Airwars menuntut koalisi untuk merilis semua informasi yang relevan, membentuk mekanisme independen, dan menggalang dana untuk membantu keluarga para korban.