Astudestra Ajengrastri
BALI
Dana Moneter Internasional (IMF) pada Selasa menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi dunia untuk tahun 2018; dari 3,9 persen yang diumumkan tiga bulan lalu menjadi 3,7 persen. Penurunan prediksi ini adalah yang pertama terjadi sejak 2016 lalu.
Angka prediksi baru ini muncul karena beberapa faktor, yang paling utama adalah banyaknya tarif barang impor yang saling dijatuhkan oleh Amerika Serikat (AS) dan China, juga berubahnya prediksi pertumbuhan perekonomian 19 negara dengan mata uang euro (eurozone), Jepang dan Inggris.
Faktor lain, naiknya suku bunga oleh The Fed (bank sentral AS) membuat beberapa negara semakin tertekan.
IMF memperkirakan perekonomian AS tumbuh 2,9 persen tahun ini, namun akan melambat hingga 2,5 persen tahun depan setelah kebijakan pemotongan pajak dan perang dagang AS-China yang dimulai Presiden Donald Trump terasa efeknya.
AS sendiri telah menunjukkan tanda-tanda penguatan ekonomi sejak 2014, oleh sebab itu, Paman Sam berani membuat kebijakan-kebijakan penguatan fiskal seperti menaikkan suku bunga sampai tiga kali tahun ini.
“Kami memprediksi AS akan kembali menaikkan suku bunga pada Desember nanti, jadi keempat kalinya tahun ini,” ujar Kepala Ekonom dan Ketua Departemen Riset IMF Maurice Obstfeld kepada wartawan di Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia (AM IMF-WB) 2018 di Nusa Dua, Bali.
China, sementara itu, akan tetap melaju dengan prediksi pertumbuhan ekonomi 6,6 persen pada 2018. Tahun depan, meski demikian, IMF memprediksi pertumbuhan China akan melambat menjadi 6,2 persen, yang merupakan pertumbuhan paling kecil negara tersebut sejak 1990.
“China harus mewaspadai pertumbuhan mereka yang melaju sangat kuat, tapi dititikberatkan pada jangka pendek,” tutur pria yang akrab disapa Maury ini.
Perlambatan pertumbuhan ekonomi China pada 2019, sebut Maury, adalah imbas dari perang dagang dengan AS. China harus memperkuat finansial di sektor non-bank dan mengurangi pertumbuhan utang negara untuk mengurangi potensi risiko perekonomiannya terus melambat.
“Harus ada keseimbangan. China harus mengurangi penekanan mereka soal pertumbuhan ekonomi – bukan hanya soal kuantitas, namun kualitas. Yaitu pertumbuhan yang berkelanjutan, lebih stabil, dan pasar yang lebih berimbang,” tukas Maury.
Efek AS-China sengsarakan lainnya
Perang dagang yang berlarut-larut antara AS dan China akan terus dirasakan efeknya oleh banyak negara hingga tahun depan. Bahkan, jika perang masih berlanjut pada 2019, sebut IMF, prediksi perekonomian global bisa jatuh lagi sampai 0,8 persen pada 2020.
Penurunan prediksi pertumbuhan ekonomi 2019 tersebut dijabarkan lebih rinci oleh IMF. Negara-negara eurozone pada Juli lalu diprediksi memiliki pertumbuhan ekonomi 2,2 persen, namun kini turun menjadi 2,0 persen.
Prediksi perekonomian Jepang naik 0,1 persen dari Juli menjadi 1,1 persen saat ini. Sementara Argentina, Brazil, Iran, dan Turki mendapat koreksi prediksi perekonomian yang lebih rendah ketimbang prediksi Juli.
Inggris diprediksi akan mencapai kesepakatan dalam Brexit, berseberangan dengan ketakutan banyak orang soal “no deal” dalam proses keluarnya negara ini dari Uni Eropa.
“Saya perkirakan akan ada kesepakatan yang diraih, di mana ada perdagangan bebas yang pasti lebih menguntungkan untuk Inggris. Transisi pasti akan terjadi, dan mereka telah bekerja keras untuk proses ini,” tegas Maury.
Negara-negara Afrika, di sisi lain, menghadapi kesulitan karena tiga negara dengan potensi pendapatan tertinggi di wilayah itu (Nigeria, Afrika Selatan, Angola) perekonomiannya tak sesuai harapan.
IMF juga memprediksi inflasi di dunia akan meningkat di tahun ini akibat naiknya harga komoditas, terutama komoditas di sektor energi.
Prediksi untuk perdagangan dunia juga cukup suram dengan pertumbuhan 4,2 persen tahun ini, melambat dari 6,2 persen pada 2017 dan 4,8 persen dari prediksi pada Juli.