Maria Elisa Hospita
30 April 2020•Update: 30 April 2020
Enes Canli
ANKARA
Pasukan yang setia kepada komandan perang Khalifa Haftar di Libya mengumumkan gencatan senjata sepihak pada Kamis.
Ahmed Al-Mismari, juru bicara Tentara Nasional Libya (LNA), mengatakan semua operasi militer telah dihentikan selama bulan puasa.
Dia mengatakan, bagaimanapun, LNA berhak untuk menanggapi setiap tindakan militer dan menekankan bahwa mereka pantang mundur sebelum mencapai tujuan mereka.
Beberapa jam sebelum pengumuman itu, pasukan Haftar menyerang fasilitas kesehatan militer di Tripoli dengan roket.
Akibatnya, seorang petugas kesehatan terbunuh dan enam lainnya luka-luka.
Kebakaran juga terjadi di sebuah cagar alam di selatan Tripoli akibat serangan rudal.
Pada Senin, Haftar secara sepihak mendeklarasikan dirinya sebagai penguasa Libya.
Dalam sebuah video, dia menunjukkan unjuk rasa di jalan-jalan di daerah kekuasaannya, sekaligus mengklaim bahwa dia "menerima mandat rakyat Libya" untuk memerintah negara itu.
Haftar juga mengatakan bahwa perjanjian yang ditandatangani antara pihak-pihak yang bertikai di Libya di bawah naungan PBB sudah tidak berlaku lagi.
Di bawah perjanjian tersebut, Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui PBB dibentuk untuk mengelola proses transisi kekuasaan di Libya. Perjanjian tersebut ditandatangani pada 2015 di Maroko.
Haftar dan sekutu politiknya pun berupaya mencegah perjanjian ini diberlakukan.
Sejak April lalu, LNA melancarkan serangan untuk merebut Tripoli dari GNA. Serangan tersebut telah menyebabkan kekacauan dan pertumpahan darah.
Sejak lengser dan wafatnya penguasa Muammar Khadafi pada 2011, dua kursi kekuasaan muncul di Libya: Khalifa Haftar yang berbasis di Libya Timur dan didukung oleh Mesir dan Uni Emirat Arab; dan GNA di Tripoli yang diakui PBB dan komunitas internasional.
*Ditulis oleh Fahri Aksut