Maria Elisa Hospita
09 Juli 2018•Update: 09 Juli 2018
Addis Getachew
ADDIS ABABA, Ethiopia
Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed, yang sedang melakukan kunjungan selama tiga hari ke mantan negara saingannya, Eritrea, pada Minggu, mengumumkan bahwa kedua negara itu telah sepakat untuk membuka kembali kedutaan besar di ibu kota, sekaligus melanjutkan penerbangan.
"Kami telah setuju untuk melanjutkan hubungan diplomatik; tidak akan ada lagi kenangan sedih antara pemerintah dan masyarakat kedua negara,” ujar Ahmed saat pertemuan puncak di Asmara, Eritrea.
Menjelang kedatangan Ahmed, layanan telekomunikasi yang tidak beroperasi selama lebih dari 20 tahun akhirnya beroperasi kembali.
Sesampainya Ahmed di bandara Asmara, dia mendapat sambutan meriah dari warga Eritrea yang bernyanyi sambil menebarkan bunga dan popcorn di jalanan sesuai dengan tradisi khas Eritrea.
Pada bulan Mei, Ethiopia mengumumkan bahwa mereka akan menjalankan perjanjian Aljazair Desember 2000 dan keputusan Komisi Perbatasan Internasional.
Perjanjian Aljazair disepakati setelah kedua negara tetangga itu bertempur dalam perang selama tahun 1998-2000, yang menewaskan 70.000-80.000 jiwa di kedua belah pihak.
Komisi Perbatasan Internasional kemudian memutuskan bahwa Badme - sebuah perbatasan yang menjadi titik sengketa - adalah milik Eritrea, dan Eritrea harus memberi kompensasi kepada Ethiopia untuk sejumlah besar pengiriman Ethiopia yang disita di Pelabuhan Assab.
Eritrea memisahkan diri dari Ethiopia pada 1993.