Rhany Chairunissa Rufinaldo
31 Desember 2018•Update: 31 Desember 2018
Handan Kazanci
ISTANBUL
Gubernur provinsi Garissa, daerah yang dilanda kekeringan di Kenya, mengajukan permintaan bantuan kemanusiaan dari lembaga-lembaga Turki selama kunjungannya ke Istanbul, Senin.
"Kami menantikan banyak dukungan dari lembaga-lembaga Turki dan otoritas Turki, kami mengimbau Anda untuk datang dan mendukung saudara-saudara Anda di Garissa," Ali B. Korane mengatakan kepada Anadolu Agency.
Korane berada di Istanbul untuk mengadakan pembicaraan dengan para pejabat Turki untuk mencari dana bagi wilayah Garissa yang terletak di dekat perbatasan dengan Somalia.
Menurut Korane, masalah utama yang dihadapi di daerah berpenduduk lebih dari 600.000 jiwa ini adalah kurangnya sponsor untuk pemberdayaan siswa dan pemuda, pengembangan budaya dan pembangunan fasilitas kesehatan dan pendidikan.
“Kami berharap dapat menjalin kerja sama yang erat,” katanya.
"Turki adalah negara ekonomi dan demokrasi besar, negara Muslim besar. Kami kehilangan mata pencaharian kami karena perubahan iklim," tambah sang gubernur.
Harga makanan di Kenya telah melonjak ke tingkat yang mengkhawatirkan karena kekurangan pangan akibat kekeringan yang mempengaruhi lebih dari 11 juta orang di Afrika Timur, 3 juta di antaranya di Kenya.
Menurut catatan pemerintah Kenya, 23 dari 47 kabupaten dipengaruhi oleh kekeringan, daerah yang paling parah terkena dampaknya adalah Kenya Utara dan wilayah pesisir, yang keduanya sebagian besar dihuni oleh Muslim.
"Kami sangat berharap bahwa kerja sama akan kembali ke tingkat yang kami perlukan dan orang-orang Turki akan membantu warga kami," imbuh Korane.
Kamp pengungsi Dadaab
Garissa juga menjadi lokasi salah satu kamp pengungsi terbesar di dunia, Dadaab, yang didirikan oleh PBB pada 1991 di tengah Perang Saudara Somalia serta kekeringan dan kelaparan.
"Kami juga menampung pengungsi selama hampir 30 tahun, pengungsi Somalia," kata Korane.
“Setiap dukungan untuk sektor-sektor pendidikan, kesehatan, mata pencaharian, pertanian akan sangat disambut baik. Ini adalah area yang kami rekomendasikan untuk kerjasama,” tambahnya.
Korane juga mengatakan sektor pendidikan dan beasiswa di universitas lokal akan menciptakan mempererat hubungan lama antara pemerintah daerah Garissa dan pemerintah Turki.
Dadaab pernah menampung 600.000 pengungsi, tetapi sekarang jumlahnya telah menurun dan laporan PBB mengatakan saat ini ada hampir 250.000 pengungsi di kamp, kebanyakan warga Somalia.
Badan Kerjasama dan Koordinasi Turki (TIKA) dan beberapa lembaga bantuan lainnya telah memberikan bantuan untuk negara tersebut, terutama di sektor pendidikan dan kesehatan.
“Hubungan kami dengan organisasi bantuan Turki dimulai sejak lama, hampir enam tahun lalu. Tapi sayangnya tidak berjalan lancar seperti seharusnya, "ujar Korane.
Menurutnya, hubungan keduanya melambat karena koordinasi yang buruk dan dia sedang mencoba menghidupkannya kembali.
"Sekarang kami cenderung memiliki hubungan yang baik karena ada banyak potensi dan bidang kerja sama. Kami mengharapkan banyak dukungan dari lembaga-lembaga Turki," imbuhnya.
Korane menekankan bahwa lembaga-lembaga Turki telah mendistribusikan makanan dan pakaian untuk para pengungsi dan juga untuk penduduk di Garissa.
“Turki juga mendukung pengembangan sektor kesehatan di Dadaab. Mereka membangun sebuah panti asuhan yang menampung sebagian besar anak-anak pengungsi dan anak-anak dari penduduk setempat,” tambahnya.