Islamuddin Sajid
ISLAMABAD, Pakistan
Amerika Serikat mulai mengurangi jatah untuk petugas militer Pakistan dari program edukasi dan pelatihan, lapor media Pakistan pada Sabtu.
Institusi militer AS "berusaha" memenuhi 66 slot tempat, yang sebelumnya sudah disiapkan untuk para personel dari Pakistan untuk tahun ajaran mendatang, kata harian Dawn yang mengutip sumber anonim.
Ini dilakukan beberapa hari setelah Pakistan dan Rusia menandatangani kesepakatan untuk mengizinkan personel militer Pakistan menerima pelatihan di institusi militer Rusia.
"Dana untuk melatih petugas Pakistan berasal dari Program Pendidikan dan Pelatihan Militer Internasional (IMET) milik pemerintah AS, tapi tidak ada dana tersedia untuk Pakistan di tahun ajaran mendatang," lapor harian tersebut.
Para personel militer Pakistan telah menerima pendidikan dan pelatihan dari AS sejak awal 1960, yang kemudian dihentikan pada 1990-an. Meski begitu, pemerintah AS mengembalikan program tersebut setelah serangan teroris 11 September 2001.
Kementerian Luar Negeri AS membenarkan bahwa partisipasi Pakistan dalam program latihan ini telah dihapuskan.
"Sejauh ini, partisipasi Pakistan dalam 97 program pelatihan senilai USD3,29 M telah dibatalkan, ini termasuk 66 kelas IMET seharga USD2,41 M, 25 kelas CTFP (Program Beasiswa Kontra-Terorisme) senilai USD843 ribu, dan 6 kelas Pusat Wilayah seharga USD37 ribu," kata kementerian melalui pernyataan.
Meski begitu, pernyataan tersebut menyatakan AS "terus menyediakan pendampingan sipil di Pakistan yang sejalan dengan kepentingan nasional AS."
Hubungan Masyarakat Internasional, sayap media militer Pakistan, belum memberi komentar atas laporan tersebut.
Pada Kamis, Mohammad Faisal, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, menolak berkomentar soal hubungan negaranya dengan AS saat ini.
"Saya tidak akan berkomentar tentang AS. Mengenai hubungan Rusia dan Pakistan, hubungan pertahanan kami telah berkembang dengan kuat selama beberapa tahun terakhir dan kedua negara telah melakukan kontak militer-ke-militer secara reguler," kata Faisal kepada wartawan.
Hubungan antara AS dan Pakistan memburuk setelah Presiden AS Donald Trump menjadi presiden pada tahun lalu, kebanyakan soal benturan kepentingan di Afghanistan.
Pada 1 Januari melalui Twitter, Trump menuduh Pakistan memainkan "peran ganda" dan memberikan perlindungan kepada faksi-faksi Taliban yang memerangi pasukan Amerika di negara tetangganya, Afghanistan. Cuitan ini diikuti dengan pemotongan dana bantuan yang meningkatkan tensi antara kedua negara yang menjadi sekutu dalam perang yang dipimpin AS ini.
Pakistan menyangkal tuduhan itu dan berkata negaranya telah "berbuat banyak" dalam perang melawan terorisme, dan akan terus melakukannya, namun untuk kepentingannya sendiri.
'Keputusan jangka pendek'
Analis keamanan dan politik di Pakistan menyebut aksi AS ini sebagai "keputusan yang berpandangan pendek" dan tidak akan berpengaruh pada kapasitas pasukan bersenjata Pakistan.
“Ini adalah keputusan picik dan ceroboh. Kerja sama semacam itu lebih bermanfaat bagi negara tuan rumah dan saya pikir itu justru mendorong Pakistan lebih dekat kepada China dan Rusia,” kata Brigjen. (Pensiunan) Mohammad Saad, seorang analis pertahanan yang berbasis di Islamabad, kepada Anadolu Agency.
Prof. Ijaz Khan Khattak, seorang analis politik dari Islamabad berkata AS memakai taktik menekan Pakistan supaya menolong mereka di Afghanistan yang terkoyak perang.
"Saya rasa AS tidak puas dengan kerja sama mereka dengan Afghanistan dan mereka menggunakan taktik ini untuk menekan Pakistan supaya membantunya di Afghanistan," kata Khattak.
Hubungan Pakistan-Rusia
Pada Selasa, Pakistan dan Rusia menandatangani persetujuan perdana mereka dalam pertemuan Komite Konsultatif Militer Gabungan (JMCC) di markas militer Pakistan di Rawalpindi.
Di bawah kesepakatan itu, pasukan Pakistan akan menerima pelatihan di institut militer Rusia.
"Pakistan dan Rusia telah sukses mengembangkan hubungan pertahanan yang solid, yang didasari pada kepercayaan, persamaan kepentingan dan pandangan senada soal masalah-masalah penting di dunia dan wilayah," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan.
"Kedua negara telah berhasil membangun lintasan positif dalam interaksi tingkat tinggi dan mencari cara-cara baru untuk memperkuat hubungan bilateral di semua bidang, termasuk sektor pertahanan," tambah dia.
*Hakan Copur dan Muhammed Bilal Kenasari di Washington turut melaporkan.
news_share_descriptionsubscription_contact

