Umar İdris
31 Mei 2019•Update: 31 Mei 2019
Umar Farooq
WASHINGTON
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menyatakan pada Kamis bahwa kebijakan AS yang memberi sanksi terhadap minyak Iran tetap sama, dan tidak ada pengecualian bagi negara manapun.
AS mengakhiri bantuan untuk negara-negara yang masih membeli minyak Iran awal bulan ini, memberi mereka waktu untuk menghentikan pasokan Teheran dan mendapatkan sumber minyak dari negara lain setelah memberlakukan kembali sanksi pada November.
Sanksi tersebut merupakan bagian dari kampanye pemerintahan Trump untuk memberikan tekanan ekonomi terhadap Iran dan pengiriman pasukan militer untuk menundukkan aktivitas Iran di luar negeri.
"Kami akan menjadi nol, dan tentu saja tidak ada perpanjangan bantuan ini, dan itu tetap merupakan kebijakan kami," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Morgan Ortagus kepada wartawan.
Ortogus menjawab pertanyaan tentang laporan bahwa China dan India diizinkan untuk terus menerima pengiriman minyak dari Iran selama pembelian dilakukan sebelum sanksi berlaku.
Ortogus mengatakan kepada wartawan bahwa tekanan AS terhadap Iran cukup sukses dalam mengurangi pengaruh Iran di Timur Tengah.
"Kami melihat pemenuhan terhadap sanksi Iran sejauh ini merupakan kebijakan paling sukses dalam pemerintahan saat ini yang telah dilakukan oleh Departemen Luar Negeri," tambah Ortogus.
Ortogus mempersilakan diadakan pertemuan darurat antar kepala negara Timur Tengah di Arab Saudi untuk mendiskusikan ancaman Iran terhadap kawasan.
Di awal Mei, Uni Emirat Arab mengklaim empat armada, termasuk dua tanker berisi minyak, telah menjadi sasaran serangan sabotase yang terjadi masih di dalam teritori mereka.
Beberapa hari kemudian, Arab Saudi mengatakan pesawat militer tanpa awak telah menyerang dua stasiun pipa minyak yang membawa minyak dari provinsi bagian timur Arab Saudi ke pelabuhan Yanbu.
Arab Saudi menuduh kelompok pemberontak Houthi di Yaman di balik serangan itu. Grup ini dikenal dekat dengan Iran.