13 Oktober 2017•Update: 13 Oktober 2017
Muhammed Bilal Kenasari
WASHINGTON
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS Heather Nauert berharap bisa melakukan dialog dengan Turki untuk segera menyelesaikan krisis visa antara kedua negara.
“Menteri Luar Negeri [Rex Tillerson] sudah berbicara dengan rekannya [Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu] kemarin,” kata Nauert.
Dalam konferensi pers, Nauert mengungkapkan kekhawatiran AS atas niat Turki setelah peristiwa penangkapan tiga pekerja lokal Konsulat Jenderal AS di Istanbul. Padahal, kedua negara memiliki kesepakatan kerja sama soal keamanan.
“Pemerintah AS dan Pemerintah Turki butuh kerja sama yang baik soal keamanan. Dengan menangkap orang-orang kamu, mereka menimbulkan tanda tanya soal posisi mereka dalam kerja sama ini,” jelas Nauert.
Soal seorang pastor AS bernama Andrew Brunson dan pekerja Konsulat Jenderal yang kini mendekam di penjara Turki karena situduh terkait dengan kelompok teroris FETO, Nauert mengatakan AS meminta bukti dari pemerintah Turki sebelum melemparkan tuduhan terorisme.
Nauert juga berharap para pekerja yang ditangkap diizinkan untuk bertemu dengan penasihat hukum mereka.
Sebelumnya, pekerja di Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Istanbul Metin Topuz ditangkap karena terbukti berkomunikasi dengan Buronan Jaksa Zekeriya Oz dan mantan pejabat-pejabat kepolisian yang terkait dengan kelompok teroris FETO.
Biro Terorisme dan Kriminal Kejaksaan Negara Turki menangkap Topuz dengan tuduhan “upaya menghapus tatanan konstitusional”, “mata-mata”, dan “upaya menghapus Pemerintahan Turki”.
Kementerian Luar Negeri Turki menyatakan, “Orang yang ditangkap terkait terorisme pada tanggal 25 September 2017 tidak terdaftar sebagai pekerja resmi Konsulat AS dan tidak memiliki kekebalan diplomatik atau konsuler.”
Sesaat setelah pengumuman penangguhan visa non migran oleh AS terhadap warga negara Turki, Kedutaan Besar Turki untuk Washington juga merilis pernyataan yang serupa.