Chandni
11 Mei 2018•Update: 12 Mei 2018
Andrew Wasike dan Magdalene Mukami
NAIROBI, Kenya
Setidaknya 41 orang dipastikan tewas di Kenya setelah Bendungan Patel di kota Nakuru, wilayah Great Rift Valley, retak akibat hujan deras yang tengah melanda kawasan itu, kata polisi.
Dalam sebuah pernyataan, polisi menegatakan 20 korban tewas adalah orang dewasa sementara 21 masih anak-anak.
Air yang meluap dari bendungan membanjiri desa-desa dan menghancurkan rumah-rumah warga.
"Hujan mulai kemarin malam dan kemudian kami mendengar suara sesuatu pecah, dan setelah itu pun langsung banjir dan listrik padam," kata Beatrice Wanyonyi, warga desa Subukia, kepada Anadolu Agency.
"Jumlah korban tewas kemungkinan meningkat," tambah dia. "Begitu banyak yang masih belum ditemukan."
Abbas Gullet, sekretaris jenderal Palang Merah Kenya mengatakan, "Dampak dari banjir di seluruh negeri kini telah mencapai tingkat bencana nasional dan kehancuran yang disebabkannya akan terlihat ketika hujan berhenti."
“Sebagian besar wilayah yang terkena dampaknya adalah mereka yang mengalami kekeringan sebelum hujan turun. Ini adalah tragedi ganda dan komunitas ini menjadi lebih rentan karena bencana berturut-turut," jelas Gullet.
Sebelumnya, sebuah tim dari Palang Merah, yang menangani operasi penyelamatan dengan pemerintah mengatakan "39 orang dibawa ke rumah sakit semalam setelah Dam Patel di Subukia meluap."
Sebuah pernyataan pemerintah yang dirilis awal pekan ini mengatakan jumlah orang yang harus dipindahkan akibat banjir di Kenya adalah sebanyak 222.456. Jumlah itu kemungkinan meningkat setelah bencana yang terjadi di Nakuru.
Pemerintah Kenya sejauh ini mengeluarkan USD6 juta untuk menyediakan makanan dan obat-obatan bagi korban bencana.