“Tombol nuklir” AS bergantung pada Trump
Presiden AS selalu membawa tas yang disebut "bola nuklir", "tombol darurat presiden" "tombol" atau "bola" dalam setiap perjalanannya.
Washington, Amerika Serikat
Ekip
WASHINGTON
Polemik tombol nuklir antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menimbulkan tanda tanya mengenai peluncuran senjata nuklir di Amerika Serikat.
Dalam pidato tahun barunya, Kim menyatakan bahwa dia memiliki tombol nuklir di atas mejanya dan bisa digunakan setiap saat. Selain itu dia tidak akan menghentikan program nuklir.
Menanggapi pernyataan tersebut, Trump melalui Twitter menyatakan bahwa dia memiliki tombol nuklir yang lebih besar daripada milik Kim.
“Akankah seseorang dari rezimnya yang telah habis dan kelaparan bisa beritahu dia bahwa saya juga memiliki tombol nuklir, yang lebih besar dan lebih kuat daripada yang dia miliki, dan tombol saya bekerja!," cuit Trump lewat media sosial Twitter.
Menurut peraturan AS, hanya presiden yang memiliki wewenang untuk proses peluncuran serangan nuklir di AS.
Saat ini, wewenang ini bergantung pada kemurahan hati Donald Trump, yang dikenal kerap membuat keputusan kontroversial.
Dalam kantor kepresidenan AS tidak terdapat tombol yang berfungsi untuk menembakkan senjata nuklir, namun proses itu disebut "tombol nuklir" karena hanya presiden “seorang diri” yang memberikan keputusan peluncuran serangan nuklir.
Presiden AS selalu membawa tas yang disebut "bola nuklir", "tombol darurat presiden" "tombol" atau "bola" dalam setiap perjalanannya.
Tas yang di simpan dalam kendaraan yang sama, pesawat yang sama, lift yang sama dan hotel yang sama dengan presiden tersebut dilindungi oleh secret service.
Menghindari risiko presiden berada dalam keadaan tertentu yang membuatnya tidak mampu bertugas, tas yang sama juga dimiliki oleh wakil presiden.
Di dalam tas terdapat perencanaan serangan nuklir, kode verifikasi dan kartu bernama “biskuit”.
Tas dan kartu tersebut berfungsi untuk mengirimkan rencana penyerangan yang dipilih presiden beserta kode verifikasi ke pusat komando senjata nuklir ketika presiden harus memberikan perintah peluncuran senjata nuklir saat sedang tidak berada di dekat pusat komando.
--Proses dimulai dengan pembukaan tas
Hanya presiden sebagai satu-satunya orang yang memiliki kewenangan untuk mengaktifkan nuklir yang bisa membuka tas ini.
Presiden hanya membuka tas ini saat dia akan melakukan penyerangan.
Jika terjadi serangan nuklir, presiden mendiskusikan segala pilihan militer dengan penasihat militer dan sipil dalam ruang yang dikenal dengan nama Ruang Situasi di Gedung Putih dan melalui sambungan teleconference dengan yang tidak berada di sana.
Jika sedang berada di luar Gedung Putih, presiden menjalin komunikasi dengan penasihatnya dari dalam pesawat atau di fasilitas terdekat milik Amerika Serikat melalui jalur sambungan aman.
Wakil direktur operasi Pentagon yang juga memimpin Pusat Gerakan Militer Nasional, yang dikenal sebagai "Kamar Perang" di bawah Departemen Pertahanan AS (Pentagon) menjadi nama kunci dalam pertemuan tersebut.
Wakil direktur mengirimkan instruksi serangan nuklir utama ke Komando Strategis di Omaha. Proses konsultasi dapat berlanjut sesuai permintaan presiden, namun jika menyangkut sebuah serangan ke AS, proses konsultasi diperkirakan tidak lebih dari satu menit.
-- Verifikasi antara Pentagon dan Presiden
Kabinet dan tim keamanan nasional dapat mengajukan keberatan atas keputusan presiden, namun mereka tidak dapat mencegahnya.
Pentagon harus melaksanakan perintah jika presiden sudah memberi keputusan. Tentara yang tidak mengikuti perintah dianggap berkhianat.
Setelah menerima keputusan, perwira tertinggi di Pusat Operasi Militer Nasional membacakan dua huruf militer untuk memverifikasi apakah presiden yang memberikan keputusan tersebut.
Presiden kemudian membacakan kode di atas kartu yang terdapat dalam tas dan dua huruf yang disebutkan perwira tadi.
Sesaat setelah kode dikonfirmasi, perintah dan koordinat segera disampaikan kepada seluruh kapal selam dan pusat komando rudal antar benua.
Kemudian proses peluncuran senjata nuklir pun dimulai dalam hitungan detik.
Untuk pengaktifan rudal yang berada di darat, lima orang perwira memasukkan kode yang mereka terima ke sistem dan membuka kunci yang terhubung ke komputer mereka dalam waktu yang sama.
Rudal di darat akan meluncur lima menit setelah instruksi presiden, sementara rudal di bawah laut meluncur 15 menit setelah instruksi presiden.
Presiden tidak dapat menarik keputusannya kembali memberikan kode tersebut.
Presiden juga memiliki kekebalan hukum atas bencana yang ditimbulkan dari perintah penyerangan tersebut.
-- AS hampir pernah hampir meluncurkan serangan nuklir pada perang dingin
Proses ini tidak terjadi sebelumnya di Amerika Serikat, namun pada tahun 1979, AS yang dipimpin oleh Presiden Jimmy Carter saat itu hampir meluncurkan serangan nuklir ke Uni Soviet.
Suatu malam tengah malam pada tahun 1979, pusat peringatan dini di Colorado melaporkan bahwa Uni Soviet meluncurkan serangan nuklir terhadap AS.
Penasihat Keamanan Nasional Zbigniew Brzezinski diminta untuk membangunkan presiden.
Brzezinski menerima telepon kedua mengenai peluncuran rudal nuklir kepada Amerika Serikat, dia diberitahu bahwa presiden hanya memiliki waktu enam menit untuk melakukan serangan balik.
Penasihat Keamanan Nasional Brzezinski kemudian menelepon Gedung Putih untuk membangunkan presiden, namun pada saat yang sama dia menerima telepon ketiga yang menyatakan bahwa peringatan tersebut salah.
Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
