Budaya

Mencari hilangnya generasi ketiga pembatik tulis

Pembatik tulis yang bekerja dengan canting dan malam panas kian langka. Di Kampung Batik Laweyan, Solo, misalnya, hanya ibu-ibu setengah tua yang masih piawai melakukannya

İqbal Musyaffa, Astudestra Ajengrastrı  | 29.11.2017 - Update : 02.01.2018
Mencari hilangnya generasi ketiga pembatik tulis Perajin batik tulis bekerja di depan sebuah toko batik rumahan di Kampung Batik Laweyan, Solo, pada 24 Novomber 2017. Laweyan yang terletak di selatan kota Solo adalah salah satu sentra produksi batik terbesar di Jawa Tengah. (Astudestra Ajengrastri - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

Astudestra Ajengrastri

SOLO, Jawa Tengah

Tiga wanita paruh baya duduk beralaskan tikar di depan Toko Batik Merak Manis, Kampung Batik Laweyan, Solo. Di pangkuan masing-masing tersampir kain sepanjang hampir dua meter, dua sudah berhias motif batik dan satu lagi masih berwarna putih.

Khusuk, ketiganya mencelupkan canting besi ke wajan kecil berisi lilin panas yang terus dibiarkan cair di atas tungku. Bau malam – sebutan untuk lilin khusus yang dipakai untuk membatik itu – menyeruak. Aromanya tak menusuk, tapi samar-samar tercium bersama angin, bak lilin aromaterapi yang kini digandrungi itu.

Mulyati, Sumiati, dan Widiastuti dengan cekatan menggambari kain dengan canting, sesekali meniupi lilin cair di dalamnya yang masih mendidih. Jemari mereka berlenggak-lenggok mengikuti pola yang sebelumnya sudah digambari dengan pensil.

“Gampang kok ini, ndak susah,” kata Mulyati, 62 tahun, sambil melemparkan senyum kepada Anadolu Agancy yang mengunjungi mereka akhir pekan lalu.

Mulyati sendiri sudah belajar membatik sejak umur delapan tahun. Dia belajar dari neneknya. Awal-awal belajar, kata dia, tak jarang tangan Mulyati cilik melepuh karena salah memegang ujung canting. Tapi semangatnya kala itu tak jadi surut.

Semasa dia kecil dulu, Laweyan adalah salah satu pusat produksi batik terbesar di Indonesia. Tahun 1900-an, kecamatan yang terletak di barat kota Solo ini, berjaya karena batik. Mayoritas penduduknya adalah juragan atau saudagar batik, yang memiliki pabrik rumahan pembuatan batik tulis dan cap.

Tak heran, penduduknya pun sedari kecil sudah menguasai cara membatik. Industri batik Laweyan sempat padam di era 1970-an karena masifnya penjualan batik printing dari Tiongkok. Para juragan batik gulung tikar.

Tapi kini industri batik di desa kelahiran Serikat Dagang Indonesia itu bangkit lagi. Di perkampungan seluas 25 hektare yang dihuni sekitar 2.500 jiwa itu, bau malam panas kembali menyeruak dari teras-teras showroom batik. Nyaris di semua toko batik Laweyan, ada setidaknya tiga wanita mempertunjukkan seni membatik tulis di emperannya.

Tapi sayang, generasi pembatiknya tak kian muda.

“Anak dan cucu saya, ndak ada yang bisa mbatik. Malas mungkin, ya?” keluhnya. 

Menikmati batik dengan ‘rasa’

Langkanya generasi muda menjadi pengrajin batik tulis bisa jadi tak ada urusan dengan rasa cinta pada kebudayaan, tapi lebih berkaitan dengan finansial.

Mulyati sendiri mengaku hanya menerima bayaran Rp35 ribu per hari. Dengan tujuh jam sehari, enam hari per minggu, dia hanya bisa mengumpulkan Rp840 ribu per bulan. Masih di bawah upah minimum yang ditetapkan pemerintah kota Solo sebesar Rp1.535 ribu per bulan.

Pembatik yang lebih muda, kata Mulyati, mengumpulkan upah yang lebih rendah. Hanya Rp30-32,5 ribu per hari.

Di sisi lain, industri batik yang berkembang membutuhkan produk yang lebih massal. Di Laweyan, produksi batik cap dan sablon juga sedang menggelora.

Bila batik tulis membutuhkan waktu nyaris dua minggu untuk pembuatan kain sepanjang 2,5 meter yang cukup untuk membikin satu potong kemeja, batik cap atau kombinasi – yakni campuran cap dan tulis – butuh waktu tiga hari untuk merampungkan selebar kain yang sama. Sementara batik sablon, sekali produksi menghasilkan 40 meter kain yang bisa dijahit menjadi 16 potong kemeja.

Muda-mudi Laweyan pun memilih untuk mengisi perburuhan di sektor ini. Setidaknya ada 20 ranah pekerjaan lain di industri batik Laweyan, mulai dari menjahit, mengecap, menyablon, mendistribusi, hingga mendesain. Yang terakhir ini penting buat Laweyan yang tak menghasilkan motif batik konvensional ala keraton, namun memproduksi motif Saudagaran yang kontemporer dan berbeda tiap-tiap juragan batik.

Sistem pembayaran mereka, menurut Ketua Umum Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL), komunitas yang berisi para juragan batik di Laweyan, Alpha Febela Priyatmono, bergantung pada setiap home industry.

“Ada yang harian, mingguan, hingga bulanan,” tukas dia.

Alpha juga mengatakan, upaya memperkenalkan batik kepada generasi muda bukannya tak dilakukan.

Salah satunya melalui program Laweyan Tiga Zaman yang digelar September lalu dan menampilkan profil pembatik dari tiga generasi; generasi tua, dewasa, dan remaja.

“Kini mulai banyak remaja yang tertarik untuk membatik,” aku Alpha.

Sebagai juragan dengan merek Mahkota Batik Laweyan, Alpha mengaku tak khawatir dengan tersendatnya proses regenerasi pembatik tulis. Menurut dia, memainkan canting sebetulnya tak terlalu rumit. Bisa dipelajari oleh siapa saja dalam waktu relatif singkat.

Menurut Alpha lagi, promosi batik juga tak melulu harus lewat batik tulis. Produk batik juga bisa diturunkan ke aktivitas lain seperti edukasi atau wisata budaya.

Karena itulah, FPKBL sendiri kini lebih fokus menjaga eksistensi Kampoeng Batik Laweyan sebagai situs cagar budaya. Dia ingin, ketika wisatawan datang ke Laweyan, mereka bisa merasakan sendiri suasana kebudayaan desa pembatik yang kental.

“Kalau jualan produk sekarang sudah bisa lewat toko online. Tapi untuk menikmati seni itu kan harus datang sendiri, harus dengan rasa,” kata Alpha.

Seperti kopi: dikenal tapi kurang eksis

UNESCO mengukuhkan batik Indonesia sebagai Representative List of the Intagible Cultural Heritage of Humanity pada 2 Oktober 2009. Inilah titik balik kebangkitan industri batik dalam negeri.

Setidaknya ada 101 sentra batik yang sebagian besar tersebar di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Seluruhnya adalah Industri Kecil Mandiri (IKM).

Menurut data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), jumlah tenaga kerja yang terserap di sentra IKM batik mencapai 15 ribu orang. Tahun 2016, nilai ekspor kain dan produk batik mencapai USD149,9 juta.

Hingga semester I tahun 2017, nilai ekspor batik mencapai USD39,4 juta (senilai Rp528 miliar) dengan tujuan pasar utama ke Jepang, AS, dan Eropa.

Soal regenerasi pembatik, rupanya juga sudah disoroti oleh Kemenperin.

“Kami melihat jumlah anak muda yang mau menjadi perajin batik masih sangat terbatas,” kata Sekjen Kemenperin Haris Munandar saat membuka Pameran Hari Batik Nasional 2017 di Jakarta, 26 September lalu.

“Kita harus meyakinkan generasi muda bahwa profesi menjadi perajin batik atau bisnis di industri batik memiliki prospek yang menjanjikan,” lanjut dia.

Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf) Ricky Joseph Pesik juga mengakui para pekerja muda kurang tertarik pada industri kreatif batik.

Dari 2 juta tenaga kerja berusia muda di Indonesia, 30 persennya bekerja di industri ekonomi kreatif. Tapi nyaris tak ada yang menjadi pembatik tulis.

Bekraf sendiri, ujar dia, memiliki tujuan melakukan kampanye dan pemasaran batik yang lebih baik di dunia internasional. Tak peduli itu batik tulis, cap, printing, atau sablon.

“Batik kita seperti kopi,” kata Haris. “Dikenal dunia tapi tidak eksis di pasar global.”

Menurut Alpha, pada akhirnya, batik adalah rangkaian proses – bukan sekadar bagaimana cara menggambarkan motif ke atas kain putih. Untuk selembar kain bisa diklasifikasikan sebagai batik ada tiga syarat mutlak.

Yang pertama, harus memakai malam panas. Kedua, menggunakan alat utama berupa canting, cap, dan alat pencetak lain. Ketiga, motif apapun yang tertulis harus memiliki suatu makna.

Namun yang lebih penting, kata Alpha, supaya batik tetap tercatat sebagai kekayaan budaya Indonesia di UNESCO, batik harus dijauhkan dari kepunahan.

“Jadi harus ada yang memproduksi, harus ada yang memakai, dan harus ada yang mengedukasi,” kata Alpha.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın