JAKARTA
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu menyatakan, sistem dunia sudah seharusnya berubah dalam beberapa hal menyusul wabah pandemi Covid-19.
Cavusoglu menjelaskan selama bertahun-tahun dunia diperingatkan tentang pandemi yang dapat berubah menjadi bencana besar.
“Banyak orang yang hidup di tengah-tengah perang yang berkecamuk, krisis, kerentanan endemik, keruntuhan negara, dan penderitaan,” kata Cavusgolu pada Kamis.
Menurut Cavusoglu, mereka yang hidup di kawasan damai dan makmur mungkin membayangkan tidak ada yang dapat mencelakai.
“Namun, inilah pandemik; tidak ada kelompok masyarakat maupun sesorang yang tidak mungkin terjangkau oleh virus mematikan,” kata Cavusoglu.
Oleh karena itu, kata Cavusoglu, masyarakat perlu menjaga jarak dengan orang lain dan membatasi interaksi sosial.
Apalagi, wabah telah menjangkau seluruh benua, kecuali Antartika.
“Angka tengah berpacu menuju satu juta dan sangat mungkin melebihi angka tersebut, lebih dari sepertiga orang diminta untuk tetap di rumah, dan jumlah korban yang sangat tinggi akan terus bertambah,” terang dia.
Dampak ekonomi besar
Cavusoglu menambahkan dampak ekonomi akibat pandemi ini akan besar dan dapat berdampak jangka panjang.
Dampak pada kerentanan negara dalam hal politik dan keamanan tentu akan menyulitkan pemerintah di seluruh dunia.
Dunia, sambung dia, juga belum melihat titik akhir dari situasi sulit ini, namun kita menunggu itu datang.
“Ini bukan hanya saat untuk merenung namun juga memimpin dan mengambil tindakan,” terang Cavusoglu.
Dia menambahkan sistem global telah terpecah bahkan sebelum virus korona menyerang manusia.
“Turki menyatakan bahwa kami perlu mereformasi sistem. Kami menyebutnya ‘the world is larger than five’ agenda, merujuk kepada susunan lama Dewan Keamanan PBB dan tidak hanya itu saja,” ujar dia.
Turki, kata Cavusoglu, sebagai negara yang menangani konflik tiada henti dan rumah bagi pengungsi dengan jumlah terbesar di dunia, telah mengetahui bahwa sistem tidak berjalan.
Menurut dia, ketika dunia terpukul dengan pandemik ekonomi di tahun 2008, G20 mampu mengarahkan hingga menstabilkan ekonomi dunia yang goyah.
Sistem pada saat itu berjalan berkat peran aktor global yang relatif baru.
“Kita harus kuat menghadapi dampak ekonomi besar yang sama kali ini dan memastikan sistem berjalan bahkan membuat berbagai perubahan dan penggantian yang diperlukan,” terang dia.
Cavusoglu mengatakan prioritas utama dunia saat ini adalah menjamin kesehatan dan keamanan masyarakat dari Covid-19.
“Kami mendukung pernyataan G20 di mana para pemimpin bertindak secara solidiratas dalam melawan pandemik dan menjaga ekonomi dunia serta perdagangan yang tidak terbatas,” tukas dia.
Kata Cavusoglu, perpanjangan perjanjian SWAP merupakan salah satu langkah penting yang disetujui oleh G20.
Usulan Turki
Cavusoglu menyatakan Turki senang usulannya untuk membentuk Senior Officials Coordination Group disambut antusias oleh G20 karena kita perlu berkoordinasi secara erat dalam berbagai hal seperti penanganan perbatasan dan pemulangan warga negara.
“Saya berterima kasih kepada Kanada yang menyampaikan gagasan awal mengenai modalitasnya. G20 kembali membuktikan sebagai format yang tepat dalam menangani krisis global,” terang Cavusoglu.
Cavusoglu menyampaikan sejumlah negara turut mengambil langkah-langkah kuat tesendiri, termasuk Turki.
Namun, kata dia, langkah mandiri tersebut tidak akan cukup. Tantangan global membutuhkan respon dunia, pertama dalam hal kesehatan masyarakat.
“Lalu ekonomi dan dalam jangka panjang membentuk institusi-institusi internasional serta dukungan negara-negara akan lembaga tersebut,” kata dia.
Evaluasi kebijakan tidak efektif
Cavusoglu menekankan perlindungan terhadap masyarakat rentan, imigran gelap dan pengungsi, serta dukungan kepada negara-negara penerima bahkan lebih penting saat ini.
Rantai pasokan global dan lalu lintas barang juga harus berjalan tanpa hambatan.
Selain itu, kata dia, sanksi sebagai alat kebijakan yang tidak efektif juga harus dievaluasi dari sisi kemanusiaan di tengah pandemi.
Berbagai sanksi, terang Cavusoglu, antara lain sanksi terhadap Iran yang hanya merugikan rakyat Iran dan negara-negara sekitarnya.
“Pada saat pandemi, resiko akan semakin besar. Negara-negara berkembang dan terbelakang, khususnya di Afrika tidak boleh ditinggalkan,” ucap dia.
Akhiri konflik
Menurut Cavusoglu, masalah lintas sektoral yang paling membutuhkan respons global adalah mengakhiri berbagai konflik yang mengakibatkan beban besar pada manusia, ekosistem, ekonomi dan nurani.
“Oleh karena itu, kami menyerukan kepada masyarakat internasional untuk menghentikan semua konflik, permusuhan dan berusaha untuk sungguh-sungguh berdialog dan rukun termasuk di Timur Tengah,” ujar Cavusoglu.
Cavusoglu menilai berbagai kompetisi geopolitik tidak lagi berarti ketika dunia sedang berjuang untuk kesehatan dan menyadari semua orang menderita.
“Seruan ini tidak bisa diabaikan begitu saja apabila kita semua dapat meluangkan waktu sejenak untuk mendukung ini di seluruh dunia,” tukas dia.
Cavusoglu menyampaian para generasi pemimpin menentukan masa depan tatanan dunia melalui berbagai keputusan yang mereka ambil sehubungan dengan pandemik ini.
“Benih yang kita tanam hari ini akan segera kita hadapi seperti realita yang telah berkembang penuh,” ujar dia.
Cavusoglu meyakini perwujudan sebuah sistem global yang berdasar pada aturan-aturan, fungsi negara-negara yang kuat dan, perekonomian yang memberikan manfaat bagi setiap orang, akan dapat dicapai.
Sistem global itu juga didukung oleh organisasi-organisasi internasional yang tepat dan berfokus kepada kesejahteraan masyarakat tanpa memandang kebangsaannya, agama ataupun ras.
“Meskipun banyak penderitaan yang ditimbulkan oleh pandemik ini, mungkin ada hikmah baik, apabila kita ingin mewujudkannya. Tetaplah di rumah dan berhati-hatilah,” pungkas Cavusoglu.
news_share_descriptionsubscription_contact
