Iqbal Musyaffa
08 Mei 2020•Update: 09 Mei 2020
JAKARTA
Sebuah kajian yang dilakukan oleh Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) mengungkap imbas positif periode ‘lockdown’ akibat pandemi Covid-19 terhadap kualitas udara di Asia Tenggara.
Analis di Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (CREA) Isabella Suarez mengatakan tingkat gas Nitrogen Dioksida (NO2) di kota-kota besar seperti Kuala Lumpur, Manila, dan Bangkok, berkurang akibat penurunan transportasi dan manufaktur.
“Level NO2 di Kuala Lumpur terpantau turun sekitar 60 persen dibanding tahun 2019,” ujar Suarez dalam keterangan resmi, Jumat.
Dia mengatakan Jakarta yang memiliki tingkat polusi udara paling berbahaya di kawasan Asia Tenggara, saat ini tercatat mengalami penurunan NO2 sekitar 40 persen dari level gas tersebut pada tahun lalu.
“Namun sayangnya sebaran PM 2.5 tetap konsisten dengan tahun-tahun sebelumnya,” kata dia.
Suarez menjelaskan bahwa penurunan NO2 yang tidak dibarengi dengan berkurangnya polutan PM 2.5 juga dialami kota-kota seperti Hanoi, Ho Chi Minh, dan Jakarta yang berasal dari pembakaran batu bara dan industri di kota-kota sekitarnya.
Lebih lanjut, Suarez mengatakan secara umum kondisi seperti itu direplikasi di seluruh wilayah kota-kota besar yang berdekatan dengan pembangkit listrik tenaga batu bara.
Dia mengatakan langit biru yang terlihat di kota-kota besar dapat menunjukkan apa yang sebenarnya bisa dicapai jika berbagai pihak mulai berinvestasi dalam energi bersih setelah krisis ini mereda
“Penelitian kami menunjukkan bahwa polusi udara perkotaan merupakan akumulasi dari berbagai sumber, mulai dari kendaraan dan lalu lintas, kegiatan industri, hingga pembangkit listrik tenaga batu bara yang sangat berpolusi,” tambah Suarez.
Suarez menambahkan pencemaran udara di sebagian besar negara-negara Asia Tenggara sering melampaui hingga 5 kali batas yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada masa sebelum pandemi.
Kondisi tersebut menjadikan polusi udara menjadi masalah lingkungan yang paling mengancam kesehatan manusia.
Di wilayah Asia Tenggara sendiri terdapat 799 ribu kematian per tahun akibat penyakit pernapasan kronis dan penyakit jantung, serta penyakit pendukung lainnya yang disebabkan oleh masalah polusi udara.
Bahan bakar fosil telah banyak ditemukan sebagai penyebab lebih dari 150 ribu kematian dini di seluruh dunia.
Sedangkan kerugian dari sisi ekonomi akibat polusi udara dari bahan bakar fosil diperkirakan mencapai USD2,9 triliun pada tahun 2018, atau 3,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dunia.
“Perbaikan kualitas udara saat ini masih anomali. Namun jika dibiarkan begitu saja setelah lockdown tak diberlakukan maka polusi udara akan kembali dengan cepat dan menjadi ancaman terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia,” ungkap Suarez.