Erric Permana
21 Maret 2019•Update: 22 Maret 2019
Erric Permana
JAKARTA
Terjadi kepanikan selama 20 detik dalam kokpit pesawat naas Lion Air JT610 rute Jakarta - Pangkalpinang sebelum jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat pada Oktober 2018 lalu.
Hal itu diungkapkan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) kepada jurnalis pada Kamis.
Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo mengatakan berdasarkan rekaman Cockpit Voice Recorder (CVR) Lion Air JT610 tersebut, Pilot berkebangsaan India Bhavye Suneja dan Co-pilot Harvino panik selama 20 detik sebelum pesawat tersebut jatuh.
"Saya sampaikan sepertinya ada [kepanikan]," ujar Nurcahyo di kantornya pada Kamis.
Menurut dia, kepanikan muncul karena kedua pilot itu menyadari tidak bisa mengendalikan pesawat ke posisi normal.
Meski demikian, Nurcahyo mengaku tidak bisa menjelaskan detil percakapan ataupun teriakkan kedua pilot tersebut.
Nurcahyo mengatakan pembicaraan ataupun transkrip percakapan kedua pilot itu tidak bisa dipublikasikan karena diatur dalam undang-undang.
Nurcahyo membantah pemberitaan media Amerika Serikat mengenai adanya teriakkan Co-pilot Harvino menjelang pesawat tersebut jatuh.
Kata dia, pemberitaan mengenai isi pembicaraan antara pilot dan co-pilot JT610 yang beredar di media itu berbeda dengan rekaman yang ada di dalam CVR.
Isi CVR pun kata dia hanya dimiliki oleh KNKT.
Meski demikian, dia mengakui pernah mengizinkan pihak dari Otoritas Penerbangan Amerika Serikat (FAA), NTSB dan Perusahaan Boeing untuk mendengarkan percakapan kedua pilot itu sebelum jatuh.
Sebelumnya, Rekaman pembicaraan kokpit Lion Air JT610 bocor ke media.
Kantor berita Reuters menyebut bahwa Co-pilot sempat mengucapkan kata "Allahuakbar" sebelum pesawat itu jatuh ke perairan Karawang.