Nicky Aulia Widadio
24 November 2020•Update: 24 November 2020
JAKARTA
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan Indonesia belum bisa mendatangkan vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech dan Moderna.
Menurut Erick, kemampuan distribusi vaksin di Indonesia tidak sesuai dengan kedua vaksin tersebut yang memiliki ketentuan suhu penyimpanan hingga minus 70 derajat Celcius.
Vaksin Pfizer dikembangkan oleh perusahaan farmasi Amerika Serikat bekerja sama dengan perusahaan farmasi Jerman, BioNTech.
Vaksin ini diklaim memiliki efektivitas hingga 95 persen, namun harus disimpan dalam suhu minus 70 derajat Celcius.
Sedangkan vaksin Moderna dikembangkan oleh perusahaan farmasi asal AS dengan klaim efektivitas mencapai 94,5 persen. Namun, vaksin Moderna harus disimpan dalam suhu minus 20 derajat Celcius.
“Vaksin yang akan dibeli pemerintah itu yang cold chain-nya friendly dengan distribusi kita, yaitu 2 sampai 8 derajat Celcius,” kata Erick dalam webinar pada Selasa.
“Kalau kita harus membongkar rantai distribusi kita menjadi misalnya minus 20 derajat Celcius, ini akan menghambat apa yang biasa sudah kita lakukan,” ujar Erick.
Oleh sebab itu, pemerintah sejauh ini memilih menjajal vaksin yang dapat disimpan dalam kategori temperatur tersebut, seperti Sinovac, Novavax, dan AstraZeneca.
“Jangan berpikir bahwa ini berbisnis, tidak. Tetapi pemerintah melihat vaksin mana yang bisa deliver dengan yang kita punya,” lanjut Erick.
Indonesia tengah merancang program vaksinasi terhadap 107,2 juta penduduk atau 67 persen dari total populasi berusia 18-59 tahun.
Pemerintah masih menunggu izin penggunaan darurat vaksin Sinovac dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk dapat memulai vaksinasi massal tersebut.
Vaksin Sinovac tengah menjalani uji klinis tahap ketiga di Bandung, Jawa Barat. BPOM memperkirakan izin darurat untuk vaksin ini baru dapat diterbitkan pada Januari 2021.