Muhammad Nazarudin Latief
15 Mei 2018•Update: 16 Mei 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Pemerintah bersama dengan penyedia layanan over the top (OTT) sudah menghapus ribuan akun yang terkonfirmasi menyebarkan konten pro-terorisme dan menyebar kebencian.
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan konten tersebut tersebar di media sosial, aplikasi pesan dan platform video sharing.
“Mereka [penyelenggara OTT] melakukan pemantauan dan saat confirmed berhubungan dengan terorisme dilakukan takedown akun ataupun kontennya,” ujar Menteri Rudi seusai bertemu dengan perwakilan Google, Facebook dan Telegram di Jakarta, Selasa.
Menurut Menteri Rudi, Telegram sudah memblokir 280 akun, di media sosial Facebook dan instagram teridentifikasi sekitar 450 akun dengan konten pro-terorisme dan yang sudah terblokir sekitar 350 akun.
Kemudian di Youtube teridentifikasi sekitar 250-an akun, sekitar 70 persennya sudah diblokir. Di media sosial Twitter, sudah ada sekitar 60-70 akun yang diblokir.
Menurut Menteri Rudi, akun yang teridentifikasi namun belum diblokir masih masih digunakan oleh polisi, Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) maupun Densus 88 untuk mengembangkan penyelidikan.
“Kadang ada situs yang mengajari cara membuat bom tapi belum diblokir, itu karena ingin tahu jaringannya ke mana. Jadi otomatis tidak dilakukan pemblokiran, tapi ini hanya masalah waktu, nantinya akan diblokir,” ujar Menteri Rudi.
Pemerintah juga mengintensifkan kerja mesin crawling atau pengais situs yang mempunyai konten negatif dengan mengoperasikannya setiap dua jam. Sebelumnya mesin seharga Rp200 miliar yang disebut Ais ini, beroperasi setiap tiga jam.
Para penyelenggara OTT, kata Menteri Rudi, sangat kooperatif. Biasanya, penanganan laporan terhadap akun yang dianggap bermasalah bisa memakan waktu beberapa hari, namun dalam kasus terorisme ini dalam hitungan jam sudah bisa ditangani.
Perwakilan Facebook Indonesia Ruben Hatari mengatakan pihaknya mengaku mendapat banyak laporan akun-akun bermasalah dari polisi dalam beberapa hari ini. Pihaknya lalu melakukan tindak lanjut dengan menghapus akun-akun tersebut.
“Platform ini yang tidak mengizinkan kekerasan. Kalau menemukan konten yang melanggarar standar komunitas akan kami turunkan,” ujar dia.
Perwakilan Google Indonesia Danny Ardianto mengatakan pihaknya siap bekerja sama dengan pemerintah menindak konten-konten yang mengarah pada terorisme dan kebencian.
“Kami kerja 24 jam tujuh hari seminggu untuk menangani akun-akun seperti ini. Kami punya kebijakan yang kuat, kami tidak membolehkan terorisme dan ujaran kebencian ada di platform kami,” ujar dia.
Setidaknya 28 orang meninggal saat bom bunuh diri dari simpatisan teroris meledak di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur, sepanjang Minggu-Senin.
Sebanyak 13 orang merupakan warga sipil dan petugas polisi, sementara sisanya adalah para terduga teroris.
Hingga Selasa, ada 33 korban luka-luka yang masih menerima perawatan di beberapa rumah sakit.
Sebelumnya, pada Selasa (8/5) kerusuhan meledak di rumah tahanan Mako Brimob Blok C yang berisi tahanan teroris. Rabu (9/5), polisi membenarkan lima anggota Densus 88 dan seorang narapidana terorisme tewas dalam kerusuhan tersebut.
Pada Kamis pagi pukul 07.15, polisi mengumumkan telah mengambil alih kendali rutan dengan 155 tahanan teroris satu per satu dilucuti dan menyerahkan diri. Seluruh tahanan kemudian dipindahkan ke Rutan Nusakambangan di Cilacap, Jawa Tengah.