Muhammad Latief
JAKARTA
Singapura masih menjadi negara yang paling banyak menanamkan investasinya di Indonesia. Laporan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada Rabu, hingga semester I/2017, negara ini menanamkan dananya sebesar USD 3,7 miliar, atau 23,5 persen dari total investasi.
Urutan kedua, adalah Jepang sebesar USD 2,8 miliar (18,3%), berikutnya China sebesar USD 2,0 miliar (12,6%). Posisi berikutnya ditempati Hongkong dengan investasi sebesar USD 1,0 miliar (6,6%) dan terakhir Amerika Serikat sebesar USD 1 miliar (6,2%).
Kepala BKPM Thomas Lembong mengatakan, realisasi investasi hingga Juni 2017 mencapai Rp336,7 triliun. Terdiri dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 129, triliun dan penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp 206,9 triliun. Pada periode yang sama tahun lalu, investasi baik PMA maupun PMDN mencapai Rp 298, 1 triliun.
“Trennya jelas, investasi tetap tumbuh, naik terus, tentu masih banyak peluang untuk memperbaiki lagi laju pertumbuhan ini,” ujarnya di Jakarta.
Lembong mengaku, ada beberapa masalah yang menghambat investasi di Indonesia. Seperti yang disampaikan oleh Presiden Jokowi, bahwa masih ada peraturan menteri (Permen) yang menyulitkan dunia usaha dan tidak baik bagi investasi.
Sektor usaha yang menarik minat investor masih belum berubah banyak, antara lain pertambangan (Rp 20,8 triliun); listrik, gas dan air (Rp 19 triliun); industri makanan (Rp 18,9 triliun) ; industri logam dasar (Rp 17,5 triliun) dan industri kimia dasar serta farmasi (Rp 12,8 triliun).
Kemudian, daerah-daerah yang diincar oleh investor adalah DKI Jakarta (Rp 24,8 triliun), Jawa Barat (Rp 24,8 triliun), Jawa Timur (Rp 21,3 triliun) dan Banten (Rp 11,5%) dan Sumatera Selatan (Rp 10,6 triliun).
Menurut Lembong, dalam waktu dekat investasi dari Eropa diharapkan naik signifikan. BKPM sudah mengadakan pertemuan dengan 11 eksekutif perusahaan besar di Eropa. Sektor-sektornya antara lain, infrastruktur, pembangkit listrik, transportasi, kosmetik, hingga alutsista.
“Kami sangat menghargai investasi dari Amerika dan Eropa dari sini cenderung pada sektor teknik dengan ketrampilan vokasional sangat tinggi. Jadi model yang sanga bagus itu Jerman dan Skandinavia soal vokasi, magang, pendidikan mesin, dan teknik. Itu suatu aspek investasi yang cukup intensif dibicarakan,” ujarnya.
news_share_descriptionsubscription_contact
