Muhammad Latief
12 Oktober 2017•Update: 12 Oktober 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Petani-petani garam di kawasan Indramayu, Jawa Barat dan Lombok, Nusa Tenggara Barat, meminta pemerintah mendampingi mereka menerapkan teknologi yang tepat untuk meningkatkan produksi garam.
Sekretaris Jenderal Persatuan Petambak Garam Indonesia (PPGI) Sarli mengatakan pada Kamis, harga garam mencapai Rp3.000 per kilogram, cukup bagus untuk saat ini. Sayangnya, produktivitas petani kini sangat rendah karena daerahnya sudah mulai diguyur hujan.
“Jadi moment kenaikan harga garam ini tidak bisa dimanfaatkan petani karena produksi tidak banyak,”ujar dia.
Selain untuk garam konsumsi, garam rakyat sebenarnya juga diterima oleh perkebunan kelapa sawit maupun karet. Garam-garam tersebut digunakan sebagai campuran pupuk.
Anggota presidium PPGI, Amin Abdullah, yang juga petani dari Lombok Timur mengatakan, teknologi paling mutakhir yang bisa diterapkan dalam memproduksi garam adalah sistem ulir.
Produksi garam dengan cara ini dimulai dengan mengalirkan air laur ke empat kolam penampungan dan mengalirkannya secara berkelok-kelok untuk mempercepat penuaan larutan garam hingga mencapai derajat kekentalan 20-25 derajat.
Setelah itu kemudian ditampung dalam kolam tendon untuk meningkatkan kepekatan sebelum dialirkan ke meja garam, tempat terjadinya kristalisasi.
“Sistem ulir ini bisa meningkatkan produktivitas hingga 110-175 ton per hektar, sebelumnya hanya 45 ton per hektar,” ujarnya.
Beberapa petambak sudah menggunakan cara ini, namun tidak maksimal karena tidak ada pendampingan yang berkelanjutan dari petugas pemerintah. Para petugas ternyata hanya datang saat membagikan geomembrane, sebagai alas tambak, namun tidak bisa diharapkan saat petani butuh bimbingan.
“Seharunya ada transfer teknologi, tidak hanya membagikan geomembrane,” ujarnya.