Iqbal Musyaffa
15 Oktober 2020•Update: 15 Oktober 2020
JAKARTA
Indonesia meraih surplus neraca perdagangan non-migas pada September dari Amerika Serikat sebesar USD1,07 miliar, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan surplus tersebut berasal dari perbandingan total ekspor Indonesia ke Amerika Serikat sebesar USD1,68 miliar sementara impor hanya sebesar USD607,4 juta.
“Ekspor Indonesia ke AS didominasi oleh pakaian dan aksesorisnya, pakaian bukan rajutan, serta mesin dan perlengkapan elektrik,” jelas Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Kamis.
Indonesia juga meraih surplus dari India sebesar USD562,5 juta, yang berasal dari total ekspor USD864,2 juta dan impor USD301,7 juta.
Surplus neraca perdagangan terbesar lainnya berasal dari Filipina sebesar USD491,2 juta yang berasal dari total ekspor USD531,8 juta dan impor USD40,6 juta.
Namun Indonesia mengalami defisit dengan China, sebesar USD879,2 juta, yang berasal dari total ekspor USD2,62 miliar dan impor USD3,5 miliar.
“Komoditas ekspor utama Indonesia ke China antara lain besi baja, lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral,” jelas Suhariyanto.
Selain itu, Indonesia juga mencatatkan defisit perdagangan dari Ukraina sebesar USD140,1 juta yang berasal dari total ekspor USD25,4 juta sementara impor USD165,5 juta.
Indonesia juga mencatat defisit perdagangan dari Brazil sebesar USD119,3 juta yang berasal dari total ekspor USD106,4 juta dan impor USD225,7 juta.