Muhammad Nazarudin Latief
18 Juni 2019•Update: 19 Juni 2019
Muhammad Latief
JAKARTA
Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad pada Senin mengecam persepsi negatif masyarakat internasional tentang industri kelapa sawit dan menyatakan bahwa penanaman kelapa sawit tidak mempengaruhi ekosistem negaranya.
Mahathir berbicara dalam dialog setelah berpidato tentang demokrasi di Malaysia di Universitas Cambridge, Inggris. Menurut dia "minyak kelapa sawit adalah minyak nabati termurah yang dapat dimakan."
Sawit juga mudah dibudidayakan, dan sekali ditanam, hasilnya dapat dinikmati hingga 25 tahun, tidak seperti minyak lainnya seperti kedelai dan lobak, kata dia seperti dilansir Channel News Asia.
"Untuk alasan itu, minyak kelapa sawit mampu bersaing (dengan minyak lainnya) dan kemungkinan menang. Jadi mereka (Barat) menemukan ide ini bahwa kami menebang pohon untuk menanam (minyak) pohon kelapa sawit dan merampas binatang dari habitat mereka. "
Mahathir, yang melakukan kunjungan kerja tiga hari ke Inggris, mempertanyakan asumsi bahwa budidaya kelapa sawit telah merusak lingkungan Malaysia.
"Anda berbicara tentang lingkungan, menebangi hutan, tetapi lihat Inggris misalnya, di mana Sherwood Forest? Apakah masih ada di sana? Apakah Robin Hood masih beroperasi dari sana?"
"Sebagian besar hutan di Eropa telah ditebangi, begitu banyak sehingga tidak ada lagi binatang liar di Eropa," kata Mahathir.
Dia menambahkan sambil tertawa: “Di Malaysia, kami masih memiliki harimau. Jika Anda suka pergi ke hutan, kami dapat mengirim Anda ke sana. "
Putrajaya telah membatasi total area perkebunan kelapa sawit di 6,5 juta hektar, dan tidak ada area hutan permanen atau lahan gambut yang akan dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit.
Mahathir mengatakan pada Maret bahwa Uni Eropa membuka perang dagang dengan Malaysia atas kebijakan "sangat tidak adil" yang bertujuan mengurangi penggunaan minyak sawit.
Komentar itu muncul setelah Komisi Eropa menyimpulkan bahwa budidaya kelapa sawit menghasilkan deforestasi yang berlebihan dan penggunaannya dalam bahan bakar transportasi harus dihapuskan pada 2030.
Dia menyarankan saat itu bahwa sikap Uni Eropa yang semakin memusuhi minyak sawit adalah upaya untuk melindungi alternatif yang diproduksi sendiri oleh Eropa, seperti minyak lobak.
Pada Senin, politisi veteran mengatakan bahwa Malaysia ingin bersaing dengan seluruh dunia secara adil.
"Kita harus menghasilkan uang dari sumber daya yang kita miliki. Kita harus memanfaatkan sumber daya kita. Tanah subur kita cocok untuk minyak kelapa sawit, oleh karena itu kita menghasilkan minyak sawit," kata dia.
Malaysia adalah produsen minyak kelapa sawit terbesar kedua di dunia setelah Indonesia, dan bergantung pada hasil panen untuk miliaran dolar dalam pendapatan valuta asing dan ratusan ribu pekerjaan.