03 Agustus 2017•Update: 03 Agustus 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Kerja sama transportasi online dengan berbagai operator di Indonesia, ternyata terbukti menciptakan lapangan kerja yang signifikan di Indonesia. Para pengemudi angkutan online juga mendapatkan pendapatan di atas rata-rata upah minimum nasional, demikian diungkapkan Presidium Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Muslich Zainal Asikin, Kamis.
Data yang dirilis Alphabeta pada 2017, sekitar 43 persen pengemudi Uber sebelumnya tidak masuk kategori angkatan kerja. Latar belakang mereka sebelum bergabung dengan Uber adalah pengangguran (28%), mengurus rumah tangga (8%), pelajar atau mahasiswa (4%), dan pensiunan (3%).
Dalam berbagai survei, ditemukan juga bahwa dengan menjadi pengemudi transportasi online, mereka merasakan peningkatan kualitas hidup.
Penyerapan pengangguran ini, menurut Muslich juga diperkuat dengan data dari Badan Pusat Stastik (BPS), yang menyatakan bahwa 41% total pengangguran merupakan lulusan SMA. “Sementara mayoritas pengemudi transportasi online adalah lulusan SMA. Artinya layanan ini menyerap angkatan yang menganggur,” simpul Muslich.
Saat ini, di Indonesia beroperasi beberapa layanan transportasi online. Di antaranya Uber, Go-Jek, dan Grab. Go-jek, satu-satunya aplikasi yang dibikin Indonesia, mengklaim saat ini memiliki 250.000 pengemudi.
Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati, mengatakan bahwa transportasi online merupakan salah satu upaya kreatif menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan produktivitas perekonomian. Karena itu, “harus didukung, baik yang diusahakan oleh pemerintah atau BUMN, swasta, maupun koperasi”.
Komitmen untuk membangun inovasi ini, kata Enny, akan meningkatkan efisiensi dan produktivitas ekonomi. Gambarannya, pengguna Uber di Jakarta mengaku bisa menghemat waktu perjalanan dari 10-38 persen, dan sebagian besar menggunakan perjalanannya untuk berkegiatan terkait pekerjaan. “Data dari Pusat Kajian Komunikasi UI, 91 persen konsumen Go-jek merasa produktivitasnya meningkat sejak menggunakan transportasi online,” sebut Enny.