Iqbal Musyaffa
15 Juni 2020•Update: 15 Juni 2020
JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan nilai impor Indonesia pada Mei 2020 sebesar USD8,44 miliar, merosot tajam dibanding pada April 2020 dan Mei tahun lalu.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan total impor pada Mei turun 32,65 persen dari impor bulan sebelumnya sebesar USD12,54 miliar.
Penurunan impor ini terdiri dari impor migas yang turun 23,04 persen dari USD0,85 miliar menjadi USD0,66 miliar serta impor nonmigas turun 33,36 persen dari USD11,68 miliar menjadi USD7,78 miliar.
“Penurunan impor terjadi lebih dalam lagi sebesar 42,2 persen bila dibandingkan dengan Mei tahun lalu yang sebesar USD14,61 miliar,” ujar Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Senin.
Suhariyanto menjabarkan penurunan impor secara tahunan terjadi pada impor migas sebesar 69,87 persen dari USD2,18 miliar dan impor nonmigas turun 37,34 persen dari USD12,42 miliar.
Menurut dia, penurunan impor terjadi pada seluruh sektor penggunaan barang, antara lain sektor barang konsumsi pada Mei yang sebesar USD0,93 miliar turun 23,08 persen secara bulanan dan juga turun 39,83 persen secara tahunan.
“Penurunan impor barang konsumsi antara lain buah kurma karena bulan Ramadan sudah lewat dan juga impor mesin cuci,” kata dia.
Kemudian, impor bahan baku/penolong pada Mei yang sebesar USD6,11 miliar mengalami penurunan 34,66 persen secara bulanan dan juga turun 43,03 persen secara tahunan.
“Komoditas pada impor bahan baku/penolong yang turun antara lain bagian dari transmisi receiver portable untuk keperluan Handy Talky (HT), penurunan gula mentah, gandum, dan penurunan kedelai,” tambah Suhariyanto.
Selanjutnya, impor barang modal pada Mei yang sebesar USD1,39 miliar turun 29,01 persen secara bulanan dan turun 40 persen secara tahunan.
“Yang mengalami penurunan antara lain berupa beberapa part untuk radio dan telepon, part komputer, mesin pengepakan, mesin oven, dan beberapa lainnya,” imbuh Suhariyanto.
Suhariyanto menambahkan berdasarkan golongan barang HS dua digit yang mengalami peningkatan impor adalah kendaraan udara dan bagiannya (HS 88) sebesar USD22,8 juta, kapal, perahu, dan struktur terapung (HS 89) sebesar USD18,5 juta, serta pakaian dan aksesorisnya/bukan rajutan (HS 62) sebesar USD7,5 juta.
Kemudian golongan barang HS dua digit yang mengalami penurunan impor adalah mesin dan peralatan mekanis (HS 84) sebesar USD560 juta, mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) sebesar USD526 juta, serta besi dan baja (HS 72) sebesar USD283,6 juta.