Iqbal Musyaffa
26 Oktober 2020•Update: 27 Oktober 2020
JAKARTA
Bank BRI Syariah mencatatkan pertumbuhan laba bersih pada kuartal ketiga 2020 sebesar Rp190,5 miliar yang meningkat 238 persen secara tahunan.
Kemudian dari sisi aset BRI Syariah tercatat sebesar Rp56 triliun pada kuartal ketiga 2020, meningkat 51,40 persen dari periode yang sama tahun lalu.
Direktur Utama BRI Syariah Ngatari menyampaikan hingga kuartal ketiga 2020 bank tersebut telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp40 triliun, tumbuh mencapai 57,90 persen secara tahunan yang ditopang oleh segmen ritel (SME, Mikro dan Konsumer) untuk memberikan imbal hasil yang lebih optimal.
“Peningkatan laba bersih BRI Syariah di kuartal ketiga 2020 didukung oleh optimalisasi fungsi intermediari yang diikuti dengan pengendalian beban biaya dana,” jelas Ngatari dalam keterangan resmi, Senin.
Dia merinci pada kuartal ketiga 2020, komposisi pembiayaan konsumer menjadi yang domininan dalam penyaluran pembiayaan di BRI Syariah dan menjadi salah satu fokus penyaluran pembiayaan karena memiliki risiko yang rendah.
“Ini karena pembiayaan konsumer ini berdasarkan asset based (KPR) dan Salary Based (pembiayaan multi guna) dengan total pembiayaan konsumer yang disalurkan hingga kuartal ketiga 2020 mencapai Rp12,2 triliun atau tumbuh sebesar 53,77 persen secara tahunan,” lanjut Ngatari.
Dia menambahkan selain segmen konsumer, pembiayaan mikro BRI Syariah juga memberikan kontribusi besar terhadap total pembiayaan dengan jumlah penyaluran pembiayaan mikro tercatat sebesar Rp10,9 triliun, tumbuh sebesar 185 persen secara tahunan.
Ngatari menambahkan pembiayaan KUR yang masuk di segmen mikro juga mencatat pertumbuhan positif dan telah mencapai 95 persen di bulan September dari total penyaluran untuk tahun 2020.
“Total target KUR BR Syariah di tahun 2020 adalah Rp4,5 triliun dan alhamdulillah di bulan September 2020 kami telah menyalurkan Rp4,3 triliun, artinya hampir tercapai 100 persen dari target,” lanjut Ngatari.
Kemudian di sisi dana pihak ketiga (DPK), BRI Syariah mencatat pertumbuhan sebesar 72,7 persen melalui fokus peningkatan dana murah (CASA) dalam penghimpunan dana.
Pada kuartal ketiga 2020, BRI Syariah mampu meningkatkan CASA sebesar 135 persen secara tahunan dan peningkatan CASA ini bertujuan agar dapat mengendalikan biaya dana (Cost of Fund).
“Dana Pihak Ketiga meningkat ditopang oleh pertumbuhan dana murah (giro dan tabungan) sejalan dengan strategi pengendalian beban biaya dana. Peningkatan dana murah mendorong penurunan biaya dana atau cost of fund,” jelas Ngatari.
Ngatari melanjutkan digitalisasi proses pembiayaan lewat aplikasi i-Kurma menjadi salah satu pendorong pertumbuhan pembiayaan BRIsyariah di masa pandemi.
“Selain penyaluran pembiayaan kepada pelaku usaha mikro, kecil dan menengah, di tengah upaya-upaya pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19 yang belum selesai, BRIsyariah ditunjuk menjadi salah satu bank penyalur dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN),” lanjut dia.
Hingga pertengahan bulan Oktober 2020 BRI Syariah telah menyalurkan sekitar Rp449,9 miliar kepada 6.169 nasabah di sektor usaha produktif.