Maria Elisa Hospita
15 Desember 2018•Update: 16 Desember 2018
Fatih Hafiz Mehmet
ANKARA
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyetujui perlunya koordinasi yang lebih efektif mengenai Suriah.
Selama percakapan telepon pada Jumat malam, keduanya membahas masalah bilateral dan perkembangan terakhir di Suriah, termasuk masalah keamanan dan upaya kontraterorisme.
Erdogan pun memberi tahu Trump tentang kekhawatiran Turki yang disebabkan oleh keberadaan dan aksi organisasi teroris PKK / PYD / YPG di Suriah.
Turki sejak lama menentang kerja sama AS dengan PKK / PYD / YPG - yang dianggap Washington sebagai "sekutu" dalam perang melawan Daesh - dengan mengatakan bahwa mereka tak dapat menggunakan satu kelompok teroris untuk melawan kelompok teror lainnya.
Dalam beberapa hari terakhir, Turki juga mengkritik AS yang menempatkan pos-pos pengamatan baru di Suriah, di sepanjang perbatasan dengan Turki.
Pada Rabu, Erdogan mengumumkan bahwa Turki akan meluncurkan operasi di sebelah timur Eufrat, Suriah, untuk mengusir teroris PKK / YPG.
Operasi itu akan diluncurkan menyusul keberhasilan dua operasi Turki sebelumnya, Operasi Perisai Eufrat dan Operasi Ranting Zaitun.
Selama lebih dari 30 tahun kampanye teror melawan Turki, PKK - yang didaftarkan sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS dan Uni Eropa - bertanggung jawab atas tewasnya sekitar 40.000 jiwa, termasuk perempuan dan anak-anak.