Muhammad Abdullah Azzam
14 Maret 2019•Update: 14 Maret 2019
Eşref Musa, Selen Temizer, Burak Karacaoğlu
IDLIB
Perjanjian gencatan senjata oleh Turki dan Rusia yang melindungi empat juta warga sipil di Idlib terancam gagal akibat serangan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh rezim Bashar al-Assad dalam waktu terakhir ini.
Menyusul pertemuan 17 September di Sochi antara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin, keduanya sepakat membangun zona demiliterisasi - di mana tindakan agresi dilarang secara tegas - di Idlib.
Di bawah kesepakatan itu, kelompok-kelompok oposisi di Idlib diizinkan untuk tetap menempati wilayah, sementara Rusia dan Turki mulai melakukan patroli gabungan di daerah itu untuk mencegah pertempuran kembali meletus.
Sejalan dengan kesepakatan Sochi, kelompok oposisi menarik persenjataan berat mereka dari daerah tertentu di Idlib sejak 10 Oktober.
Sebelumnya, sekitar 80.000 warga sipil yang meninggalkan rumah akibat serangan-serangan rezim kembali ke kampung halamannya.
Namun, pasukan rezim dan kelompok-kelompok teroris dukungan Iran kembali melanjutkan serangan mereka ke permukiman sipil, yang tak ada kelompok bersenjata di sana.
Beberapa hari lalu rezim menggunakan senajata fosfor putih ke area permukiman sipil, yang bertanda bahwa mereka telah mengabaikan perjanjian gencatan senjata tersebut.
Direktur Pertahanan Sipil Idlib, Mustafa Haj Yusuf, mengatakan dalam sebuah pernyataan kepada Anadolu Agency bahwa setidaknya 34 warga sipil tewas dan 131 lainnya menderita luka-luka selama dua minggu terakhir.
Haj Yusuf mengungkapkan bahwa masyarakat Idlib mengalami perkembangan politik yang akan mengikis proses politik dan rekonsiliasi di Suriah.
“Ratusan ribu orang akan terlantar. Akan muncul risiko gelombang migrasi baru ke Eropa,” tukas dia.