MOSCOW
Pengiriman senjata Amerika Serikat (AS) ke Ukraina hanya "menambah bahan bakar ke api yang sedang menyala," kata Kremlin pada Rabu.
Mengomentari keputusan AS baru-baru ini memberikan Kyiv sistem roket dan amunisi yang lebih canggih, kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov pada konferensi pers di Moskow bahwa AS "mengikuti garis perang dengan Rusia hingga Ukraina terakhir."
Menggarisbawahi pasokan semacam itu tidak akan mendorong kepemimpinan Ukraina untuk melanjutkan pembicaraan damai, dia mengatakan Moskow memandang keputusan itu memiliki dampak "secara negatif."
Kementerian Pertahanan Rusia dan badan pemerintah lainnya sedang menilai risiko dan mengambil tindakan yang diperlukan, tambah Peskov.
Dia juga menekankan bahwa Moskow tidak percaya pada jaminan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bahwa Kyiv tidak akan menggunakan peluncur roket ganda, yang memiliki jangkauan lebih jauh, untuk meluncurkan serangan ke wilayah Rusia.
“Untuk percaya, kita perlu memiliki pengalaman kasus ketika janji-janji ini ditepati. Sayangnya, tidak ada pengalaman seperti itu sama sekali.”
“Sebaliknya, seluruh rangkaian peristiwa – janji yang dilanggar, dimulai dengan janji pemilihan utama Presiden Zelenskyy untuk mengakhiri perang di tenggara Ukraina sekali dan untuk selamanya,” kata Peskov.
Di tengah upaya internasional untuk meredam kenaikan harga pangan, juru bicara Kremlin mengatakan Rusia siap membantu perlintasan kapal dagang yang mengekspor produk biji-bijian dari Ukraina ke perairan internasional.
Dengan krisis pangan yang terus-menerus menjadi agenda, ungkap dia, inisiatif Turki untuk menengahi masalah ini disambut positif oleh Moskow dan Kyiv.
Kedua belah pihak masih mengatasi masalah ini, dengan kesepakatan akhir saat ini di luar jangkauan.
- Kunjungan mendatang Putin ke Turki
Juru bicara Kremlin menegaskan bahwa Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov akan mengunjungi Turki dalam waktu dekat tetapi tidak memberikan rincian apapun.
Ditanya apakah kunjungan menlu Rusia itu terkait dengan persiapan pertemuan Rusia-Ukraina-PBB di Istanbul, Peskov mengatakan, "Semua ini memiliki satu konteks, semua peristiwa berlangsung secara tidak langsung."
"Tapi, belum ada pemahaman yang jelas tentang pertemuan itu," ucap dia.
Presiden Rusia Vladimir Putin juga telah diundang ke Turki oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan, meskipun tanggal pastinya belum ditentukan, namun itu akan ditetapkan melalui saluran diplomatik, ungkap Peskov.
Tentang kemungkinan pertemuan antara presiden Rusia dan Ukraina, Peskov mengatakan bahwa meski tidak ada pihak yang mengesampingkan pertemuan seperti itu pada prinsipnya, pertemuan itu "harus dipersiapkan."
"Masuk akal bagi Putin dan Zelenskyy untuk bertemu hanya untuk menyelesaikan dokumen tertentu (perjanjian damai) antara Rusia dan Ukraina," ungkap dia, seraya menambahkan bahwa pekerjaan pada dokumen semacam itu "sudah dihentikan sejak lama dan belum dilanjutkan lagi sejak itu. "
news_share_descriptionsubscription_contact
