31 Juli 2017•Update: 01 Agustus 2017
Nancy Caouette
KOTA MEXICO
Tiga orang tewas pada Minggu ketika bentrokan terjadi antara demonstran dan polisi di Venezuela, selagi pemilu kontroversial berlangsung, kata kepala jaksa negara tersebut.
Warga Venezuela pada Minggu memberikan suara untuk pemilihan majelis konstitusi yang berisikan 545 anggota.
Dua polisi juga mengalami luka-luka setelah sebuah ledakan di Caracas, menurut pihak berwenang.
Ketua Dewan Nasional yang dikuasai pihak oposisi, Julio Borges, mengatakan setidaknya 12 orang meninggal pada protes-protes menentang pemilu selama akhir pekan.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengatakan pada Minggu majelis yang baru akan membawa “era pertempuran baru” dan menekankan bahwa kritikus internasional tidak berhasil menganggu proses pemilu.
“Kaisar Donald Trump berencana menghalang warga menggunakan hak pilih mereka,” kata Maduro ketika tampil di stasiun televisi. “Saya mengatakan: hujan, badai atau banjir pun, kami akan tetap mengadakan pemilu.”
Pemimpin oposisi menyerukan boikot pemilu, terpicu kekhawatiran bahwa majelis yang terbentuk memiliki kuasa menulis ulang Konstitusi dan membubarkan badan-badan negara, menandai matinya sistem demokrasi di Venezuela.
Seruan itu tampaknya sukses dengan jumlah pemilih yang rendah di Caracas, setelah posko-posko mulai dibuka pukul 06.00 waktu setempat.
Pemerintah sebaliknya mendorong warga untul memilih setelah dua pekan lalu 7,6 juta pemilih memberikan suara mereka pada referendum yang simbolis
“Kompetisi yang berlangsung antara warga Venezuela yang bebas dan pemerintahan yang otoriter, di luar masalah Konstitusi,” kata Borges dalam acara jumpa pers. “Hari ini warga Venezuela menang.”
Jejak pendapat menunjukkan lebih dari setengah warga Venezuela menolak rencana majelis konstituen.
Negara-negara tetangga Kolombia, Panama dan Peru mengumumkan akan mengabaikan hasil pemilu itu dan mengancam tidak lagi akan menganggap Venezuela negara demokrasi.
Maduro tetap mengadakan pemilu meskipun diprotes selama 4 bulan oleh pihak oposisi. Demonstrasi yang disertai kekerasan itu menewaskan 116 orang serta dikecam oleh AS, Uni Eropa dan sejumlah negara Amerika Latin.