Giada Zampano
ROMA - Meningkatnya jumlah pelanggaran mendorong otoritas Italia mengambil sikap yang lebih tegas untuk menegakkan aturan tentang karantina wilayah yang bertujuan membatasi penyebaran virus korona (Covid-19).
Menurut data Kementerian Dalam Negeri, lebih dari 665.000 warga menjadi target pemeriksaan pada 11-15 Maret.
Lebih dari 27.600 warga dan sekitar 1.100 pemilik bisnis tercatat melakukan pelanggaran selama rentang waktu itu.
Dalam upaya untuk mengekang penyebaran virus, yang telah merenggut lebih dari 2.000 jiwa, Italia memberlakukan penutupan total, menutup sekolah, bar, restoran dan semua kegiatan bisnis yang tidak penting.
Siapa pun yang keluar dari kediaman harus memberikan sertifikasi mandiri kepada otoritas yang menjelaskan alasan perpindahan tersebut.
Ketentuan ini diperbolehkan hanya dalam empat kasus: pekerjaan, kesehatan, kebutuhan dasar dan jika seseorang perlu melakukan perjalanan ke tempat tinggal mereka sendiri.
Semua sekolah dan universitas ditutup hingga 3 April, tetapi guru dan staf pengajar menggunakan fasilitas internet untuk melanjutkan pelajaran.
Ujian universitas dapat dilakukan dari jarak jauh atau menggunakan tindakan pencegahan dasar dengan menjaga jarak minimal satu meter.
Pusat kebugaran dan sebagian besar taman telah ditutup, sementara transportasi umum tetap beroperasi, tetapi dengan sejumla batasan.
Menurut data terbaru yang dirilis oleh Konsultan Pekerjaan Yayasan Italia, sekitar tiga juta pekerja - lebih dari 13 persen dari total tenaga kerja - terpaksa tinggal di rumah karena persyaratan karantina.
Untuk melindungi mereka yang kehilangan atau berisiko kehilangan pekerjaan, dan melindungi ekonomi Italia yang sedang berjuang menghadapi resesi baru, pemerintah menyetujui paket ekonomi senilai EUR25 miliar, termasuk voucher pengasuh untuk keluarga dan bonus untuk beberapa kategori pekerja.
Virus korona, yang secara resmi dikenal sebagai Covid-19, pertama kali terdeteksi Desember lalu di Wuhan, China, dan telah menyebar ke lebih dari 163 negara dan wilayah.
Menurut Worldometer, sebuah situs web yang mengumpulkan jumlah kasus terbaru di seluruh dunia, dari 197.000 kasus yang dikonfirmasi, jumlah kematian saat ini sudah melebihi 7.900, sementara lebih dari 81.000 pasien dinyatakan sembuh.
Jumlah kasus aktif saat ini mencapai lebih dari 107.000, 93 persen di antaranya dalam kondisi ringan dan tujuh persen dalam kondisi kritis.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan Eropa sebagai pusat virus baru, setelah sebelumnya berpusat dan muncul pertama kali di Wuhan, China, Desember lalu.
news_share_descriptionsubscription_contact
