Muhammad Abdullah Azzam
14 Mei 2020•Update: 15 Mei 2020
Hassan Isilow
JOHANNESBURG
Risiko tertular virus korona di Dar es Salaam, ibu kota Tanzania dan daerah lainnya sangat tinggi karena negara itu belum merilis data Covid-19 selama dua minggu, ungkap Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di sana.
"Meski laporan resmi sangat terbatas, semua bukti menunjukkan pertumbuhan wabah yang berkali lipat di Dar es Salaam dan lokasi lain di Tanzania," kata pernyataan Kedubes AS.
Kedutaan menghimbau kepada personil pemerintah AS dan keluarga mereka agar tetap di rumah kecuali untuk urusan penting seperti berbelanja bahan makanan.
Mereka juga disarankan untuk membatasi secara hati-hati siapa saja yang masuk ke rumah mereka.
Pemerintah Tanzania belum merilis data baru tentang Covid sejak 29 April, di mana negara itu mengkonfirmasi kasus yang diidentifikasi mencapai 509 kasus, 183 orang pulih dan 21 kematian.
Kedutaan juga mengklaim "banyak rumah sakit di ibu kota telah kewalahan dalam beberapa pekan terakhir".
Mereka mengatakan kapasitas rumah sakit yang terbatas di Tanzania dapat mengakibatkan keterlambatan yang mengancam jiwa para petugas medis, termasuk mereka yang terpapar Covid-19.
Presiden Tanzania John Magufuli dikritik karena tidak menerapkan pembatasan sekala besar untuk mencegah penyebaran virus.
Tidak seperti negara tetangga, Tanzania belum menutup tempat ibadah, dengan harapan warganya berdoa agar dapat "mengalahkan virus.
Sebuah video presiden pekan lalu menjadi viral di mana dia mengatakan secara diam-diam dirinya menyerahkan sampel buah-buahan, burung dan hewan ke laboratorium kesehatan nasional untuk diuji Covid-19 dan beberapa hasilnya positif.