04 September 2017•Update: 04 September 2017
Canberk Yuksel
NEW YORK
Amerika Serikat (AS) dan beberapa sekutunya menyerukan pertemuan darurat terbuka di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyusul uji coba nuklir Korea Utara baru-baru ini.
Bersama dengan Jepang, Prancis, Inggris, dan Korea Selatan, kami telah menyerukan pertemuan darurat Dewan Keamanan terhadap Korut secara terbuka pukul 10.00,” kata utusan AS untuk PBB, Nikki Haley, lewat akun Twitter-nya.
Pengumuman tersebut keluar setelah Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres bergabung dengan para pemimpin dunia mengecam uji coba yang merupakan “pelanggaran serius” hukum internasional.
Uji coba tersebut “merusak upaya nonproliferasi dan perlucutan senjata” kata Guterres dalam sebuah pernyataan dan menyebut tindakan Korea Utara “sangat meresahkan” keamanan regional.
Sebelumnya pada hari itu, Presiden AS Donald Trump tidak akan membatalkan serangan balasan. Menteri Keuangan Steve Mnuchin mengatakan kepada Fox News bahwa Washington tengah mempersiapkan sanksi ekonomi baru yang akan mengakhiri “seluruh perdagangan dan hubungan bisnis lainnya” dengan Korea Utara.
Korea Utara mengklaim telah meledakkan bom hidrogen baru pada Minggu. Pernyataan tersebut mengkonfirmasi kecurigaan adanya uji coba nuklir keenam setelah pemantau mencatat gempa berkekuatan 6 SR – lima atau enam kali lebih kuat dari uji coba tahun lalu.
Kantor berita resmi KCNA Pyongyang mengumumkan pada Minggu bahwa uji coba “sempurna” melibatkan bom hidrogen yang dapat dipasang di rudal balistik antar benua (ICBM).
“Uji coba bom-H dilakukan untuk memeriksa dan mengkonfirmasi keakuratan dan kredibilitas teknologi kontrol daya dan desain struktur internal yang baru diperkenalkan agar bom-H dapat ditempatkan sebagai muatan ICBM,” kata KCNA.
KCNA juga telah merilis gambar pemimpin Kim Jong-un ketika sedang memeriksa hulu ledak bom-H baru.