Muhammad Abdullah Azzam
16 Januari 2021•Update: 16 Januari 2021
Tevfik Durul, Mehmet Hatipoglu
ATHENA
Yunani menyetujui pengajuan suaka politik dari setidaknya 2.000 anggota buronan Organisasi Teroris Fetullah (FETO), kelompok di balik kudeta yang dikalahkan di Turki pada 2016, lapor media Yunani pada Jumat.
Sebanyak 19.653 warga Turki memasuki Yunani secara ilegal pada 2017, kebanyakan dari mereka adalah anggota FETO, dan 9.000 orang mengajukan suaka politik, lapor harian Yunani Ta Nea.
Yunani menyetujui setidaknya 2.000 permintaan anggota FETO untuk suaka politik, tambah harian itu.
Sebagian besar anggota FETO yang pengajuan suakanya diterima tinggal bersama keluarga mereka dan mendapatkan pekerjaan di ibu kota Athena, kata media itu, sementara 697 orang yang lamarannya ditolak hingga 2018 dikembalikan ke Turki.
Banyak dari anggota FETO, yang biasanya dibebaskan setelah mengajukan suaka dan tetap berada di Athena tengah, tak pergi untuk wawancara dengan pihak berwenang dan ingin pergi ke negara-negara Eropa lainnya, terutama Jerman, tutur harian itu.
Angka-angka tersebut menunjukkan tren kenaikan secara umum warga Turki yang masuk ke Yunani lewat jalur ilegal, dari 73 pada 2014, 182 pada 2015, dan 313 pada 2016, hingga 2.738 pada 2017, 8.898 pada 2018, dan 8.017 orang pada 2019.
Namun angka tersebut dikabarkan turun pada 2020 akibat pandemi virus korona.
FETO dan pemimpinnya yang berbasis di Amerika Serikat (AS), Fetullah Gulen, merencanakan kudeta yang dikalahkan pada 15 Juli 2016 yang menyebabkan 251 orang tewas dan hampir 2.200 lainnya terluka.
Tepat setelah kudeta yang dikalahkan, delapan mantan tentara yang merupakan anggota FETO melarikan diri dari Turki dan memasuki Yunani, di mana mereka meminta suaka. Turki tidak berhasil menekan Yunani untuk mengekstradisi mereka.
Ankara juga menuduh FETO berada di balik kampanye jangka panjang untuk menggulingkan pemerintah melalui infiltrasi lembaga-lembaga Turki, terutama militer, polisi, dan pengadilan.