06 Agustus 2017•Update: 07 Agustus 2017
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Sebuah masjid di negara bagian Minnesota dibom Sabtu pagi, selagi umat muslim sedang berkumpul untuk melaksanakan salat subuh.
Polisi Bloomington mengatakan bom tersebut hanya merusak kantor imam di Dar Al Farooq Islamic Center dan Jemaah salat berhasil memadamkan api sebelum petugas pemadam kebakaran tiba. Pihak FBI sedang menyelidiki kejadian tersebut.
"Seorang saksi melihat ada sesuatu yang dilemparkan ke jendela kantor imam dari sebuah van atau truk sebelum ledakan itu," kata Asad Zaman, Direktur Masyarakat Muslim Amerika Minnesota, pada sebuah konferensi pers. Direktur eksekutif masjid Mohamed Omar menambahkan bahwa kendaraan tersebut segera melesat pergi.
Masjid Somalia, seperti masjid lain di seluruh negara bagian Amerika Serikat, telah menerima telepon dan email yang isinya mengancam, kata Omar kepada Star Tribune.
"Saat itu jam 5 pagi waktu setempat," katanya. "Seluruh lingkungan tenang, orang seharusnya masih tidur, begitulah damainya keadaan seharusnya. Saya terkejut saat mengetahui hal ini terjadi."
The Council on American Islamic Relations (CAIR), mengumumkan hadiah $ 10.000 untuk informasi yang bisa mengarahkan penangkapan dan penghukuman pelaku penyerangan.
Kantor Nasional CAIR juga mendesak masjid dan pusat Islam nasional di negera tersebut untuk meningkatkan pengamanan.
"Insiden tersebut merupakan gejala dari berkembangnya suasana Islamofobia di AS," kata direktur komunikasi kelompok tersebut, Ibrahim Hooper, kepada Anadolu Agency. "Karena kapan pun Anda melihat motif yang mungkin ada dalam kasus seperti ini, nampaknya Islamofobia akan menjadi jenis motivasi utama yang akan Anda lihat."
Hooper mengatakan pemberian imbalan di masa lalu telah berhasil mengarahkan pihaknya untuk mendapatkan informasi pelaku penyerangan yang berakhir pada penangkapan.
"Karena para pelaku penyerangan sering membanggakan aksinya kepada keluarga dan teman bahwa mereka yang melakukannya. Kemudian karena adanya tawaran imbalan, seseorang kemudian melaporkan informasi itu kepala polisi” Hooper menambahkan.