Megiza
JAKARTA
Sejak lima hari sebelum masa berakhir jabatan Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, pelataran Balai Kota sudah kedatangan kiriman karangan bunga. Satu per satu papan bunga bertulis pesan setinggi dua meter itu mulai dijajar di pintu masuk kantor sang DKI-1.
Suasana teras Balai Kota DKI Jakarta sepekan ini mirip-mirip pekan terakhir April lalu. Meski, karangan bunga kali ini tak membludak seperti sepekan sebelum mantan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama diputuskan bersalah dalam kasus dugaan penodaan agama, namun ada aura yang sama yang dirasakan oleh warga Jakarta minggu ini.
“Rasanya sedih yah. Sama kayak waktu itu. Dan kayaknya enggak pernah ada deh kejadian kiriman karangan bunga buat gubernur seperti ini kalau bukan karena Pak Ahok dan Pak Djarot,” ujar Erlin, 47, warga Jakarta Utara yang datang ke Balai Kota demi memotret fenomena karangan bunga untuk gubernur.
Pada hari terakhir kerja Gubernur Djarot, tampak warga Jakarta -yang kebanyakan kaum Ibu- beramai-ramai datang ke Balai Kota. Terik matahari yang menyengat tidak membuat mereka urung penasaran membaca pesan-pesan yang melekat di ratusan papan karangan bunga itu.
Ucapan terima kasih dan pesan penyemangat tidak hanya ditujukan untuk Gubernur Djarot. Nama mantan Gubernur Ahok pun masih dicantumkan di lebih dari 700 karangan bunga itu.
Tidak hanya itu, beberapa pengirim karangan bunga bahkan masih menempelkan nama Presiden Joko Widodo. Di beberapa karangan bunga, Jokowi disebut sebagai salah satu sosok tiga serangkai yang ikut andil dalam perubahan Jakarta sejak lima tahun ke belakang.
“Bunganya bagus-bagus. Ucapannya juga bagus-bagus. Bukan cuma buat Pak Ahok dan Pak Djarot ya, tapi ada juga buat Pak Jokowi,” kata Laras, 31, karyawan swasta yang bekerja di kawasan perkantoran Thamrin.
Meski banyak karangan bunga yang menyampaikan pesan-pesan penuh semangat dan rasa terima kasih, namun ternyata di antara deretan ratusan karangan bunga itu terselip beberapa papan bertuliskan pesan pesimistis.
Seperti yang dituliskan oleh pengirim bernama Ning Widjaja. “Terima kasih Badja [Basuki-Djarot] karena kalian aku betah di Jakarta. Abis ini tauuuk dah,” ujar dia.
Sedangkan beberapa pesan-pesan karangan bunga yang juga menarik perhatian mata tamu Balai Kota DKI Jakarta di antaranya:
“Terima kasih Ahok-Djarot. Menanti bebasnya Nemo,” sebut pengirim bernama Dory.
“Arigato gozaimashu Badja. Gw kangeun China bawel, kangeun senyumnya si Hitam Manis,” dari A.Vera, S.Mutiari, I.Yuriko, U.Sofia dan K.Wheny.
“BaDja, yang engkau buat sungguhlah indah. Buat diriku susah lupa. Buat BaDja di hati ini hanya engkau mantan terindah yang selalu ku impikan. Dari kami yang menyesal putus dari kalian,” kata pengirim bernama Malaka.
“Terima kasih BaDja, untuk tiga tahun yang singkat tapi penuh makna dan kenangan. Doakan kami untuk lima tahun berikutnya supaya selamat,” dari kami yang ditinggalkan.
“Bapak Jarot, baru kali ini kami melihat wajah Jakarta yang lebih baik di tangan JKW, BTP, DSH,” kata pengirim bernama Sarana Media Selular.
“Ali Sadikin, Gubernur DKI 1966 s/d 1977, Gubernur Baik. 35 tahun kemudian (2012) muncul Gubernur Baik, Jokowi-Ahok, setelah era Jokowi-Ahok-Djarot, 35 yahun yang akan datang, belum tentu akan muncul gubernur baik lagi. Cry4Jkt,” sebut pengirim yang mencantumkan nama sebagai Idris Warga DKI.
Di antara deretan karangan bunga berucap salam perpisahan untuk Gubernur Djarot itu, terlihat juga satu-dua karangan bunga yang ditujukan untuk penunggu Balai Kota DKI Jakarta yang baru.
Ucapan selamat atas jabatan baru dan pesan penuh doa keberhasilan turut ditujukan kepada pasangan pemimpin baru Ibu Kota, Gubernur Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Uno.
news_share_descriptionsubscription_contact
