Megiza Asmail
03 Oktober 2017•Update: 04 Oktober 2017
Megiza Asmail
JAKARTA
Empat segmen tembok berukuran tinggi 3,6 meter dan lebar 1,2 meter sejak pekan lalu terpancang di salah satu sudut Ruang Publik Terpadu Ramah Anak kawasan Kalijodo, Jakarta Barat.
Terdapat tulisan dan gambar berwarna-warni di muka tembok-tembok itu. Sebuah coretan di pojok atas tembok bertuliskan ‘Nur wir fuer urgestein’ menjadi salah satu identitas asal tembok tersebut. Jerman, negara asal mereka.
Berjarak 10798.01 kilometer dari tempat asalnya, kini warga Jakarta dapat meraba langsung dinding yang menjadi salah satu saksi bisu sejarah Republik Demokratik Jerman.
Tembok Berlin dibangun pada tahun 1961 di Jerman saat terjadi perang dingin antara kedua kubu negara adi-kuasa, yakni antara blok Timur (Rusia) dan blok Barat (Inggris, Amerika, Prancis).
Tembok sepanjang 155 kilometer itu dulunya berdiri akibat kekuasaan politik yang disebut-sebut menjadi penindas dan pemutus tali persaudaraan penduduk setempat.
Akhirnya, 9 November 1989, tembok Berlin diruntuhkan dalam perlawanan rakyat atas penindasan rezim yang berkuasa. Kini bongkahan tembok itu terpencar dan bermetamorfosis dari saksi sejarah menjadi simbol pembebasan.
Seniman Indonesia yang menyaksikan kekejaman tembok Berlin saat sedang mengenyam sekolah di Jerman, Teguh Ostenrik, mengaku tergugah untuk membawa empat segmen asli tembok Berlin ke Jakarta.
Sejak 1990, Teguh mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk membawa empat segmen tembok tersebut. Kala itu dia berencana untuk membuat karya instalasi untuk mendampingi keempat segmen dinding tersebut.
Sebanyak 14 lempeng besi dibentuk Teguh untuk dapat merepresentasikan sosok manusia baja.
“Karya instalasi ini saya sebut sebagai Patung Menembus Batas. Sebuah karya naratif yang akan mengingatkan umat manusia agar tidak mengulang tragedi kemanusiaan yang pernah terjadi,” kata Teguh.
Dia menjelaskan, di dalam empat belas figur manusia besi yang disandingkan di sekitar empat tembok Berlin itu, ada sebuah misi yang ingin disampaikannya.
“Ini sebagai ungkapan dari spirit manusia yang sekeras baja tetapi bisa bergerak luwes di atas pasir putih, simbol gersangnya suatu pertentangan, yang menembus batas pemisah,” sebutnya.
Empat bongkahan tembok Berlin dan 14 lempeng patung baja milik Teguh Ostenrik ini rencananya akan diresmikan nanti malam oleh Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat. Tanggal 3 Oktober pun dipilih sesuai dengan hari Reunifikasi Jerman.
Keberadaan empat bongkahan tembok Berlin dengan mural di kawasan Ruang Terbuka Hijau di Kalijodo bukan menjadi satu-satunya dinding yang mempercantik kawasan ini. Di sisi utara RPTRA juga sudah terbentang mural-mural penuh warna.
Jika tembok Berlin menjadi saksi bisu sejarah kemerdekaan Jerman, maka dinding mural sepanjang 24 meter yang sudah ada di Kalijodo mencoba menampilkan catatan sejarah bekas kawasan prostitusi di Jakarta Barat ini.