Özcan Yıldırım
15 Juli 2026•Update: 15 Juli 2026
Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan menegaskan bahwa peringatan 10 tahun upaya kudeta 15 Juli menjadi simbol kemenangan demokrasi dan tekad rakyat Turkiye dalam mempertahankan kehendak rakyat, demokrasi, serta kemerdekaan negara.
Menurutnya, semangat persatuan yang ditunjukkan masyarakat pada malam tersebut tetap menjadi kekuatan utama bangsa dalam menghadapi berbagai ancaman hingga saat ini.
Dalam artikel berjudul "15 Juli: Deklarasi Kemerdekaan Abad Turkiye" yang ditulis untuk memperingati Hari Demokrasi dan Persatuan Nasional 15 Juli, Erdogan menyebut telah genap 10 tahun berlalu sejak malam yang menurutnya mengubah jalannya sejarah.
Ia mengatakan 15 Juli bukan sekadar malam ketika upaya kudeta yang disebutnya sebagai pengkhianatan berhasil digagalkan, melainkan kemenangan besar demokrasi yang diukir dengan tinta emas dalam sejarah karena rakyat mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan kehendak rakyat, demokrasi, dan kemerdekaan negara.
Erdogan juga menyatakan bahwa pada malam itu rakyat Turkiye memberikan pelajaran bersejarah kepada pihak-pihak yang disebutnya berupaya menduduki tanah air bersama para pendukungnya.
Ia menggambarkan peristiwa tersebut sebagai kisah kepahlawanan yang lahir dari semangat yang sama dengan perjuangan rakyat Turkiye dalam berbagai momentum penting sejarah, mulai dari Pertempuran Manzikert, penaklukan Istanbul, hingga Perang Kemerdekaan.
Rakyat mempertahankan kemerdekaan dengan kekuatannya sendiri
Erdogan menegaskan bahwa seruan yang ia sampaikan kepada masyarakat pada malam 15 Juli bukan sekadar ajakan biasa, melainkan cerminan kepercayaan terhadap kebijaksanaan, keberanian, dan keteguhan rakyat dalam menjaga demokrasi.
Menurutnya, rakyat segera merespons seruan tersebut dengan mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan negara. Ia mengatakan masyarakat tidak menyia-nyiakan kepercayaan itu dan kembali menjaga kemerdekaan serta masa depan negara dengan kekuatan mereka sendiri.
Erdogan menyebut pada malam itu rakyat berhasil mematahkan berbagai upaya untuk membelenggu kehendak mereka serta menyingkirkan hambatan yang menghalangi langkah Turkiye.
Ia menambahkan, sebanyak 253 orang gugur dan lebih dari 2.000 orang terluka dalam peristiwa tersebut, yang menurutnya menjadi simbol pengorbanan, keberanian, dan kepahlawanan demi mempertahankan tanah air, bendera, dan kehendak rakyat.
Pemerintah terus memberantas FETO
Dalam artikelnya, Erdogan mengatakan pemerintah selama satu dekade terakhir terus melanjutkan perjuangan melawan kelompok yang oleh pemerintah Turkiye disebut Organisasi Teroris FETO, baik di dalam negeri maupun di tingkat internasional.
Ia menyatakan langkah tersebut dilakukan untuk membersihkan infiltrasi organisasi tersebut di lembaga negara dan membawa para pelakunya ke pengadilan sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang gugur pada malam 15 Juli.
Menurut Erdogan, pemerintah telah membersihkan pengaruh FETO di berbagai sektor, mulai dari birokrasi, militer, peradilan hingga dunia usaha.
Meski demikian, ia menegaskan perjuangan tersebut belum berakhir dan semangat 15 Juli harus terus dijaga agar kelompok serupa tidak kembali mengancam negara maupun masyarakat.
Persatuan menjadi kekuatan utama bangsa
Erdogan mengatakan bahwa meski telah berlalu 10 tahun, luka akibat upaya kudeta masih tetap terasa. Namun, ia menegaskan Turkiye kini menjadi negara yang lebih kuat, lebih teguh, dan semakin bersatu.
Ia menyatakan selama semangat 15 Juli tetap hidup di tengah masyarakat, berbagai rencana yang disebutnya sebagai pengkhianatan maupun campur tangan pihak-pihak di belakangnya tidak akan pernah berhasil.
Pada akhir artikelnya, Erdogan mendoakan seluruh korban yang gugur pada malam 15 Juli serta para veteran yang selamat dalam peristiwa tersebut.
Ia juga berharap Turkiye tidak lagi mengalami peristiwa serupa di masa mendatang. Menurut Erdogan, kekuatan terbesar bangsa terletak pada persatuan, kebersamaan, dan persaudaraan yang telah terjalin selama berabad-abad.