Organisasi Teroris Fetullah (FETO) memanfaatkan kedok komunitas keagamaan dan gerakan pelayanan untuk menyusup ke berbagai lembaga negara di Turkiye selama puluhan tahun. Sejumlah sosiolog menilai organisasi tersebut membangun struktur tertutup yang bertumpu pada kepatuhan, kerahasiaan, dan loyalitas kepada pemimpinnya demi mengejar kepentingan politik, birokrasi, dan ekonomi.
Menjelang peringatan 10 tahun upaya kudeta 15 Juli 2016, para ahli mengatakan FETO menggunakan bahasa agama, sekolah, asrama, dan lembaga bimbingan belajar untuk merekrut anak muda, memperoleh kepercayaan keluarga konservatif, serta menempatkan anggotanya di posisi-posisi strategis dalam pemerintahan.
Agama dijadikan alat infiltrasi
Kepala Departemen Sosiologi Universitas Istanbul Medeniyet Prof. Mahmut Hakki Akin mengatakan komunitas keagamaan pada dasarnya memiliki peran historis dalam mendidik anggotanya dan menjaga komitmen keagamaan mereka.
Namun, menurut dia, FETO justru memanfaatkan agama sebagai alat untuk mencapai kepentingan politik, birokrasi, dan ekonomi.
"Ketika berbicara tentang FETO, kita berbicara mengenai berbagai dimensi, mulai dari aktivitas ekonomi hingga upayanya menguasai birokrasi," kata Akin.
Ia menilai organisasi tersebut tidak berjalan secara terbuka, melainkan beroperasi sebagai organisasi tertutup yang menyerupai jaringan mafia bergaya Mason.
Menurut Akin, para anggotanya menggunakan nama sandi dan sering kali tidak saling mengenal meskipun bekerja di institusi yang sama.
Ia mengatakan FETO secara khusus membidik anak-anak muda yang cerdas, berpendidikan, dan berambisi agar kelak dapat ditempatkan di posisi strategis dalam militer, kepolisian, peradilan, dan birokrasi.
Akin juga menyoroti peran asrama dan lembaga bimbingan belajar yang terafiliasi dengan FETO.
Ia mengatakan banyak keluarga mengirimkan anak-anak mereka ke lembaga tersebut karena menganggapnya sebagai lingkungan pendidikan agama yang aman.
Namun, menurutnya, fasilitas itu dimanfaatkan organisasi untuk mengidentifikasi, merekrut, dan mengendalikan generasi muda.
"Sayangnya, struktur ini mengeksploitasi orang-orang yang tulus dengan cara seperti itu," ujarnya.
Akin menilai tujuan utama FETO bukan sekadar memengaruhi negara Turkiye, melainkan mengambil alih kendali negara.
Ia menyebut upaya kudeta 15 Juli sebagai usaha merebut kekuasaan sekaligus membawa Turkiye berada di bawah kendali asing.
Menurutnya, perjuangan melawan FETO tidak cukup hanya ditujukan kepada organisasinya, tetapi juga terhadap pola pikir yang membenarkan kerahasiaan, tipu daya, dan tindakan tidak bermoral demi tujuan yang dianggap lebih tinggi.
"Perjuangan melawan FETO bukan sekadar perjuangan melawan organisasi itu, tetapi juga melawan cara berpikir dan praktik seperti itu," katanya.
Bangun masyarakat tertutup
Profesor Universitas Yalova Ergun Yildirim mengatakan FETO muncul pada masa modernisasi dan urbanisasi yang cepat ketika hubungan masyarakat dengan keluarga, lingkungan, dan komunitas lokal mulai melemah.
Menurut dia, organisasi itu memanfaatkan kebutuhan seseorang untuk merasa memiliki, tetapi kemudian mengubahnya menjadi kepatuhan mutlak.
"Dalam konteks ini, komunitas keagamaan tidak lagi menjadi ruang solidaritas keagamaan yang wajar, melainkan berubah menjadi bentuk kolektivisme yang menghapus kepribadian individu," katanya.
Yildirim mengatakan identitas kelompok dan loyalitas kepada Fetullah Gulen dibuat lebih penting daripada penilaian pribadi.
Para anggota, menurutnya, didorong untuk tidak berpikir secara mandiri maupun mempertanyakan kepemimpinan organisasi.
Ia mengatakan FETO membangun masyarakat paralel, di mana para anggotanya belajar, bekerja, bergaul, berbisnis, hingga menikah di dalam jaringan yang sama.
Struktur tertutup tersebut, menurut Yildirim, mengisolasi anggotanya dari masyarakat Turkiye secara luas sekaligus mengurangi kepercayaan publik terhadap komunitas keagamaan, lembaga amal, dan solidaritas berbasis agama.
Ia juga mengatakan organisasi dan pemimpinnya diposisikan sebagai sosok yang suci, mutlak benar, dan tidak dapat dipersalahkan sehingga kritik maupun evaluasi internal hampir tidak mungkin dilakukan.
Meski FETO telah kehilangan sebagian besar kekuatan politik dan kelembagaannya, Yildirim menilai para anggotanya masih mungkin mempertahankan jaringan sosial dan ekonomi.
Berbeda dari komunitas keagamaan tradisional
Sosiolog sekaligus sejarawan Ismail Oz mengatakan FETO memiliki perbedaan mendasar dengan komunitas keagamaan dan tarekat tradisional yang selama ini berfokus pada pembinaan agama dan moral.
Menurutnya, FETO justru menggunakan citra keagamaan untuk menutupi struktur organisasi yang tertutup dan sangat terorganisasi.
"Sayangnya, proses ini dibelokkan dari jalur alaminya atau dengan sengaja diarahkan ulang dalam struktur yang dikenal sebagai FETO," katanya.
Oz menuding organisasi tersebut, dengan bimbingan badan intelijen Amerika Serikat, menggunakan bahasa esoteris dalam waktu lama dan mengembangkan model organisasi berbasis sel sehingga mampu menyusup ke lembaga-lembaga negara.
Ia mengatakan FETO berhasil membangun citra anggotanya sebagai pribadi religius, terdidik, dan patriotik sehingga dapat beroperasi selama puluhan tahun tanpa mengungkap tujuan sebenarnya.
Menurut Oz, karakter asli organisasi itu baru terlihat jelas saat upaya kudeta 15 Juli 2016.
Ia mengatakan FETO berhasil menyusup begitu dalam ke institusi resmi hingga terkadang tampak sama sahnya dengan lembaga yang dimasukinya.
Oz mengibaratkan organisasi tersebut seperti penyakit yang tumbuh di dalam tubuh negara.
"FETO ingin membuat Turkiye sakit. Bahkan, FETO ingin membunuh Turkiye layaknya tumor yang tumbuh di dalam tubuh," katanya.
Ia menilai upaya kudeta merupakan usaha mencuri negara beserta warisan sejarahnya dan mengingatkan Turkiye agar tetap waspada terhadap kemunculan struktur rahasia serupa di masa mendatang.
Ketiga pakar tersebut sepakat bahwa FETO telah melemah secara signifikan, terutama setelah meninggalnya pemimpinnya, Fetullah Gulen.
Namun, mereka menegaskan ancaman FETO tidak dapat diatasi hanya dengan membersihkan anggota organisasi itu dari lembaga-lembaga negara.