ANKARA
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu pada Selasa menegaskan bahwa Yunani bersama Uni Eropa (UE) bertanggung jawab atas 19 migran gelap yang ditemukan mati membeku di dekat perbatasan pekan lalu.
"Seperti Yunani, UE juga harus disalahkan, karena kita tahu Turki akan mendapat kritikan jika melakukan sepersepuluh dari hal ini," kata Cavusoglu pada konferensi pers bersama dengan sejawatnya dari Finlandia Pekka Haavisto di ibu kota Turki, Ankara.
"Tapi sebaliknya, Yunani mendapat dukungan dalam hal ini dan mereka punya alasan, (mengatakan) 'Yunani melindungi perbatasan Uni Eropa,' sedangkan (sebenarnya) perbatasan Eropa dimulai dari Turki di timur dan selatan," ujar dia.
Cavusoglu mengatakan kematian para migran adalah bagian dari pola kebijakan Yunani.
"Sayangnya, Yunani terus melanjutkan kebijakannya dengan secara terbuka melanggar hak asasi manusia yang melanggar hukum internasional," tutur dia, merujuk pada ribuan pencari suaka yang dipaksa dan didorong mundur oleh Yunani, yang membahayakan hidup mereka.
"Di tengah Laut Aegea, banyak imigran tewas karena kebijakan ini, bahkan karena Yunani menusuk perahu-perahu mereka dan menembaknya dengan senjata."
Kritik ini tidak ada hubungannya dengan hubungan Turki-Yunani, kata Cavusoglu.
Dia menambahkan bahwa tindakan tersebut telah menjadi kebijakan negara Yunani, dibantu oleh badan perbatasan Uni Eropa Frontex.
“Jika ada yang melindungi perbatasan UE, itu adalah Turki, terutama dalam hal migrasi,” kata Cavusoglu, menambahkan bahwa bahkan jika Athena menjaga perbatasan blok, ini tetap tidak akan “memberikan hak untuk mengabaikan atau mendukung perlakuan tidak manusiawi ini."
“Ini secara radikal bertentangan dengan nilai-nilai yang coba dipertahankan oleh UE,” tekan dia.
Mengungkapkan pasukan keamanan Yunani telah menyita paspor dan pakaian para migran, bahkan di tengah musim dingin, Cavusoglu mengatakan bahwa perilaku Yunani "tidak sesuai dengan hukum, hati nurani, atau moral."
Sementara itu, Haavisto berusaha untuk membela blok tersebut dan badan perbatasannya dengan mengutip bantuan yang diberikan kepada Polandia, Latvia, dan Lithuania dalam menghadapi arus migran "buatan" tahun lalu dari perbatasan Belarus.
Dia mengatakan organisasi-organisasi ini telah turun tangan untuk mengirim kembali migran yang telah "salah arah dan menumpuk di perbatasan Belarus," dan menekankan pentingnya kerja sama untuk menangani kasus-kasus seperti itu.
Menteri luar negeri Finlandia juga menggarisbawahi bantuan yang diberikan Turki untuk para migran Suriah.
"Kami tahu beban ekonomi seperti apa yang dialaminya (Turki). Masalahnya perlu diselesaikan oleh UE. Kami berbicara tentang perdamaian dan mediasi, jadi itu harus menjadi prioritas kami untuk memastikan bahwa orang-orang kembali ke rumah mereka dengan selamat, " ungkap dia.
Dia juga mencatat bahwa Kedutaan Besar Finlandia di Ankara adalah "kedubes bilateral terbesar yang kami miliki di Eropa," menambahkan bahwa ini "menunjukkan seberapa dekat hubungan kami."
"Kami tidak selalu setuju dan saya pikir itu pertanda debat politik yang baik, dengan pandangan politik yang berbeda, tetapi kami memiliki semangat yang sangat baik dalam diskusi kami," kata Haavisto.
Sembilan belas migran gelap ditemukan membeku sampai mati di dekat perbatasan pekan lalu, setelah barang-barang mereka dilucuti, termasuk pakaian dan sepatu, sebelum didorong kembali ke Turki oleh pasukan perbatasan Yunani.
Yunani, yang menyebut insiden itu sebagai "tragedi", dengan tegas membantah terlibat dalam insiden tersebut.
Turki dan kelompok hak asasi manusia internasional telah mengkritik perlakuan tidak manusiawi Yunani terhadap migran dan menuduhnya mengabaikan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.