Turki

Pemimpin dunia serukan aksi bersama lawan masalah global di Forum Diplomasi Antalya

Presiden Kenya Uhuru Kenyatta juga mengkritik kegagalan global dalam mendistribusikan vaksin yang adil

Beyza Binnur Dönmez,Rabia İclal Turan,Jeyhun Aliyev   | 19.06.2021
Pemimpin dunia serukan aksi bersama lawan masalah global di Forum Diplomasi Antalya Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu (kanan) bertemu dengan Ketua Dewan Tinggi untuk Rekonsiliasi Nasional Abdullah Abdullah (kiri) dalam Forum Diplomasi Antalya di NEST International Convention Center di Antalya, Turki pada 19 Juni 2021. ( Fatih Aktaş - Anadolu Agency )

Ankara

ANTALYA, Turki

Dalam pertemuan Forum Diplomasi Antalya di selatan Turki para pemimpin dunia mendesak langkah bersama dan adil untuk memerangi masalah global, terutama yang muncul selama pandemi Covid-19.

Menekankan pentingnya inisiatif seperti COVAX untuk memastikan distribusi vaksin Covid-19 yang adil untuk mengatasi pandemi, kepala kebijakan luar negeri UE Josep Borrell mengatakan selama pandemi, “vaksin merupakan kompetisi daripada kerja sama.”

"Kita harus mengatakan bahwa tidak ada yang aman sampai semua orang aman," tambah Borrell dalam pidatonya di Panel Pemimpin.

Presiden Kenya Uhuru Kenyatta juga mengkritik kegagalan global dalam mendistribusikan vaksin yang adil.

"Kami menghadapi nasionalisme (vaksin) dan prasangka yang belum pernah kami lihat sebelumnya, dan melihat vaksin penting ditimbun oleh negara lain," tutur dia.

"Kami telah melihat bahwa sistem global tidak benar-benar bekerja secara adil dan baik bagi kita semua," tambah dia, seraya mengatakan bahwa kondisi ini “mendorong kita ke tantangan yang harus diatasi."

Dia mengatakan bahwa untuk mengatasi tantangannya saat ini, dunia membutuhkan lebih banyak "sistem yang demokratis" dan "proses pengambilan keputusan yang lebih inklusif."

"Kita perlu menemukan tata kelola global yang lebih besar untuk dapat memastikan bahwa kita hidup di dunia yang adil dan merata di mana kita semua bertanggung jawab," ujar dia.


'Tidak ada yang aman kecuali semua orang aman'

Presiden Kosovo Vjosa Osmani juga menyuarakan pesan "Tidak ada yang akan aman, kecuali semua orang sudah merasa aman."

Ini berlaku untuk semua tantangan global, termasuk pandemi, terorisme, serangan siber, dan perubahan iklim, kata Osmani.

"Perjuangan dengan perubahan iklim dan hal-hal lain adalah sesuatu yang harus kita pahami yang akan mempengaruhi kita semua suatu hari nanti," tekan dia.

Jovenel Moise, presiden Haiti, juga mengatakan bahwa "kerja sama internasional tidak cukup" selama krisis global baru-baru ini.

"Dunia kita telah menjadi kota, dan di sini kita telah melihat masalah lain muncul," sebut dia.

Abdullah Abdullah, ketua Dewan Tinggi Afghanistan untuk Rekonsiliasi Nasional, juga menekankan perlunya lebih banyak kerja sama untuk mengatasi tantangan dunia saat ini.

"Tidak ada negara di dunia yang siap menghadapi pandemi," kata dia.

"Kami membutuhkan kerja sama dan kepemimpinan, dan semua orang memahami pentingnya itu," imbuh dia.

Mathias Cormann, sekretaris jenderal Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), juga berbicara tentang bagaimana memecahkan efek negatif Covid-19 pada ekonomi dunia dan bagaimana mencapai pemulihan ekonomi global.

Turunnya pendapatan nasional banyak negara bagian akibat pandemi dan minimnya ketersediaan vaksin Covid-19 di beberapa negara menjadi risiko prioritas utama, ucap dia.

Cormann menekankan bahwa tujuan utama OECD adalah untuk memastikan bahwa masyarakat dunia mendapatkan kembali tingkat kesejahteraan mereka, serta menggarisbawahi betapa pentingnya distribusi vaksin yang adil dan memadai.

Dia mengatakan jika varian baru virus menyebar, vaksin yang ada mungkin tidak berfungsi.

"Kita harus bekerja sama untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik," seru dia.

Forum Diplomasi Antalya, yang disponsori Anadolu Agency sebagai mitra komunikasi global, menjamu 10 kepala negara dan pemerintahan, 42 menteri luar negeri, tiga mantan kepala negara dan pemerintahan, lebih dari 50 perwakilan organisasi internasional atau mantan pejabat pemerintah, menurut Kementerian Luar Negeri Turki.

Debat kepentingan global, termasuk isu Balkan, masa depan Eropa, hubungan trans-Atlantik, pengungsi dan migran serta ancaman terorisme, akan dibahas secara mendalam selama forum tiga hari tersebut.

Turki juga akan mempresentasikan proposal terkait isu Mediterania Timur.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın